Seorang ilmuwan cuaca dan iklim di Singapore University of Social Sciences, Koh Tieh-Yong, mengatakan, penilaian menyeluruh terhadap sungai dan sistem air akan diperlukan di daerah yang rentan terhadap perubahan iklim, termasuk kota dan lahan pertanian.
Hasil penelitian lainnya yang diterbitkan 30 Juni di jurnal Geophysical Research Letters, perubahan iklim di Eropa kemungkinan akan meningkatkan jumlah badai besar yang bergerak lambat yang dapat bertahan lebih lama di satu daerah dan menimbulkan banjir seperti yang terlihat di Jerman dan Belgia.
Saat atmosfer menghangat dengan perubahan iklim, akan menahan lebih banyak kelembaban. Berarti ketika awan pecah dan hujan, lebih banyak yang dilepaskan. Melalui simulasi komputer, di akhir abad ini, badai seperti itu bisa 14 kali lebih sering bakal terjadi.
Sungai yang meluap dan genangan yang menghancurkan sebagian besar Jerman barat dan selatan, terjadi pula di wilayah yang jaraknya ribuan kilometer di Henan.
Kasus di 2 lokasi yang berbeda tersebut menyoroti kerentanan daerah berpenduduk padat terhadap bencana banjir dan bencana alam lainnya.
Baik di China dan Eropa barat, bencana tersebut mengikuti periode hujan lebat yang tidak biasa. Setara seperti dalam kasus di China dengan curah hujan satu tahun, dicurahkan hanya dalam 3 hari.





Komentar tentang post