Menurut Sadly, terkait InaTEWS, kinerja BMKG dirasa sangat diperlukan, terutama penambahan dan penempatan stasiun pengamat BMKG untuk pengisian gap yang ada. “Selain itu, perlu adanya kerjasama dengan Perguruan tinggi yang efektif dan efisien seperti yang telah dilakukan di Jepang,” ujar Sadly.
Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG mengundang para pakar gempabumi dan tsunami untuk duduk bersama membahas kasus gempabumi dan tsunami di Palu dan Selat Sunda. Narasumber yang diundang berasal dari ITB,Badan Geologi, LIPI dan para pakar lain yang berkompeten di bidang gempabumi. Kegiatan ini juga turut dihadiri para Pejabat Eselon I – IV, Kepala UPT Geofisika BMKG Yogyakarta, Lampung, Banjarnegara, serta undangan lainnya.*





Komentar tentang post