Kami yang dulunya saat terkena flu di musim dingin hanya minum tolak angin, tidur yang cukup dan minum air panas menjadi obat yang mujarab. Kali ini, tidak. Setiap hari mengukur suhu tubuh, mencuci tangan berkali-kali bahkan mencuci tangan setelah menyentuh benda apapun, tanpa kami sadari kami menjadi paranoid dengan penularan wabah Covid-19.
Kami tidak berani untuk keluar apartemen. Kami takut bertemu dengan manusia lainnya. Sebagai mahasiswa perantauan, kami mulai memikirkan keluarga yang jauh di sana, khawatir dikarenakan ada ketakutan terpapar virus dan akan berakhir di negeri nun jauh dari kampung halaman. Yang membuat beban psikologis lebih parah ketika memikirkan keluarga yang juga panik di Tanah Air.
Menghadapi pandemik Covid-19 memanglah menakutkan. Selain karena masa inkubasi yang cukup lama, disertai dengan gejala-gejala yang identik dengan penyakit flu biasa, membuat virus ini sulit untuk dideteksi secara manual, satu-satunya yang membuat kita yakin adalah ketika gejala tersebut disertai demam tinggi dan sesak nafas atau ketika kita mendapatkan hasil uji lab yang menyatakan positif Covid-19.
Tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi lockdown di kota Wuhan, yang dialami sendiri oleh penulis hingga masa evakuasi dan karantina di Natuna. Saat tulisan ini dibuat, 243 WNI yang dievakuasi dan melalui prosedur karantina oleh pemerintah Indonesia semua dalam kondisi sehat.





Komentar tentang post