Kondisi tubuh Lukman sudah sangat lemah, enam bulan hanya makan ikan.
Salah satu awak kapal memapah Lukman ke haluan atau bagian depan kapal. Lukman meminta tolong diberikan nasi seadanya untuk di makan.
“Saya sudah tidak bisa berjalan tegak.”
“Saya minta tolong, biar cuma sedikit nasi,”
Mereka ambilkan nasi. ”Saya rasakan nasi itu sangat keras,” ujarnya.
Nasi sudah sulit dicerna dan ditelan. Nasi ini kemudian dicampur dengan kuah ikan. ”Saya langsung makan pakai tangan.”
Mereka menanyakan identitas diri Lukman. KTP dan lainnya masih tertinggal di rumpon yang diikat di kapal, kemudian diambil. Masih ada telepon genggam, dengan sedikit sisa baterei.
Lukman tidak langsung dibawa ke Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung, Sulawesi Utara. Dirinya masih berada di kapal itu selama seminggu, menunggu jemputan atau kapal lain yang akan ke Bitung.
Lukman, sejak kejadian tali rumpon putus pekan kedua di bulan Juli 2024, hingga diselamatkan kapal perikanan pertengahan Maret 2025, kurang lebih 240 hari di Samudra Pasifik.
Dengan pekerjaan sebagai nelayan penjaga rumpon, Lukman hanya digaji Rp 2 juta per bulan dan tanpa asuransi.
“Asuransi tidak ada,” ujarnya.
Setelah tiba di Bitung, Lukman istrahat dan melanjutkan perjalanan ke Pinolosian. Majikan Lukman atau pemilik rumpon hanya memberikan Rp 500 ribu untuk kembali ke Gorontalo.




