Di dalam lubang itu, tersisa setengah botol air mineral, tanpa makanan sama sekali. Nofri dan Zulfin berbagi air tersebut, dengan meminum seadanya.
Dari celah lubang yang tertimbun material tanah bercampur bebatuan, mengalir sedikit air hujan.
“Saya sudah pasrah, air yang mengalir ke dalam lubang kami gunakan untuk berwudu,” kata Nofri.
Nofri dan Zulfin duduk berdekatan dan berdoa.
Tidak ada harapan, selain menunggu bantuan orang yang bisa menggali dari luar. Apabila akan mencoba menggali dari dalam lubang, dikhawatirkan longsoran material akan lebih banyak masuk lubang.
Timbunan longsoran di dalam lubang sekira 1 meter. Material ini tidak semuanya masuk terus ke dalam lubang galian tambang.
”Kami sempat tertidur,” kata Zulfin.
Minggu (7/7) pukul 06.00 Wita, Ridwan mulai mencari titik lubang dan menggali material longsoran. Beruntung Ridwan bisa mengenali bekas lubang tambang tersebut.
Ridwan dan rekannya mencoba memanggil Nofri dan Zulfin. Kondisi tubuh keduanya sudah lemah sekali.
”Kami mulai loyo, dan ada yang memanggil,” kata Nofri.
Hanya satu jam lebih penggalian secara manual, Nofri dan Zulfin ditemukan dalam keadaan selamat.
Penggalian dilakukan tujuh orang penambang lokal secara manual dengan menggunakan sekop dan pacul.
Pukul 07.00 Wita keduanya bisa keluar dari lubang tambang.




