Menurut Sukmo, dalam 1 tahun terakhir ini, kelapa menjadi salah satu media darling. Berita yang menghentak di berbagai macam media. Khususnya ketika harga kelapa melambung tinggi membuat sebagian masyarakat menikmati hasil yang sangat baik dari tingginya harga kelapa khususnya untuk ekspor.
Di sisi yang lain juga muncul kekhawatiran bahwa ini dilakukan secara besar-besaran dalam bentuk kelapa bulat atau kelapa jambul istilahnya. Maka potensi hilirisasi di dalam negeri yang selama ini sudah berjalan akan mendapatkan risiko yang cukup besar karena kekurangan pasokan, kata Sukmo.
Bertitik tolak pada dua hal tersebut, pihaknya membentuk Satgas Percepatan HiIirisasi Kelapa pada bulan Mei, yang terbentuk pada saat kelapa sedang mulai menanjak tinggi.
Untuk pertama kalinya pihaknya terjun ke lapangan melihat situasi sebenarnya seperti apa harga kelapa di lapangan dan apa yang terjadi.
“Kami berharap semua yang berkepentingan terhadap kelapa ini untuk bersama-sama memikirkan cara terbaik mengatasi persoalan yang mengancam kita di depan,” ujarnya.
“Perlu kami sampaikan potensi terbesar yang akan mengancam hilirisasi kelapa ini ketika kelapa tidak ada di negara kita. Artinya kelapa ini bukan lagi menjadi produk yang tersedia di perkebunan di republik ini.”




