Survei drone dilakukan dalam rangka mendukung mahasiswa Oseanografi ITB dalam mengumpulkan data untuk penyusunan Tugas Akhir.
Sekaligus kegiatan capacity building program Korea-Indonesia MTCRC di area perairan Cirebon.
Survei drone ini dilakukan di dua lokasi yang berbeda, yaitu Bungko Lor dan Lemahwungkuk.
Target garis pantai yang dipetakan adalah 5 km, dengan 3,5 km di Bungko Lor sebagai daerah budidaya garam dan 1,5 km di Lemahwungkuk sebagai daerah yang memiliki potensi sebaran marine debris (sampah laut).
Untuk menjaga akurasi pemetaan, drone juga dikombinasikan dengan pengukuran posisi referensi akurasi tinggi dengan menggunakan RTK GNSS untuk koreksi.
Data drone nantinya akan dimanfaatkan oleh mahasiswa dan para peneliti, baik peneliti MTCRC maupun peneliti dari berbagai instansi untuk menganalisis perubahan garis pantai dan perhitungan marine debris (sampah laut) di wilayah Cirebon.
“Karena topik tugas akhir saya mengenai perubahan garis pantai dan saya ingin melakukan verifikasi di lapangan, jadi harapannya dengan mengikuti survei ini, saya bisa lebih memahami bagaimana drone mapping dilakukan,” kata Avissa, salah satu mahasiswa yang mengikuti kegiatan survei drone tersebut.
Selanjutnya, survei dilakukan untuk pengukuran data dasar laut dengan menggunakan SBP di dalam area survei dengan total panjang 6 km.





Komentar tentang post