Apakah yang Dimaksud Dengan Arus Pusaran Laut

WIDODO PRANOWO, ARMYANDA TUSSADIAH, TONNY A. THEOYANA DAN JOKO SUBANDRIYO

Perairan Indonesia memiliki karakteristik arus yang kompleks dan rumit diakibatkan posisinya yang geostrategis. Arus merupakan pola pergerakan massa air laut yang dibangkitkan oleh beberapa sumber, seperti perbedaan tinggi permukaan laut akibat fenomena pasang surut dan seretan angin. Arus di kedalaman tertentu, dapat juga diakibatkan oleh aliran massa air yang dibangkitkan oleh adanya perbedaan densitas atau berat jenis air laut.

Indonesia mendapatkan tiupan angin monsoon barat yang bergerak dari atas benua Asia menuju ke timur dan tenggara ke arah Australia. Dan sebaliknya pada periode monsoon timur angin bergerak menuju barat dan baratlaut.

Secara geografis di Indonesia terbagi menjadi 4 (empat) tipe pasang surut. Posisi Indonesia yang terletak di antara 2 (dua) Samudera, menyebabkan adanya aliran massa air yang melintasi perairan Indonesia dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia.

Indonesia yang wilayahnya dilintasi oleh garis katulistiwa (ekuator) menjadikan fenomena arus di sebelah utara ekuator dan sebelah selatan ekuator, akan mempunyai karakteristik yang berbeda akibat pengaruh gaya Coriolis.

Secara umum, pertemuan antar aliran massa air atau antar arus tersebut menyebabkan terjadinya suatu pusaran arus atau yang lebih dikenal dengan eddy. Arus Eddy ini ada yang memiliki diameter puluhan hingga ratusan kilometer.

Arus Eddy yang melingkar ini mempunyai dua tipe, yakni siklonik dan antisiklonik. Pada Perairan di selatan ekuator, siklonik eddy berputar searah jarum jam, dan antisiklonik eddy berputar berlawanan arah jarum jam.

Sebaliknya pada perairan di utara Ekuator, siklonik eddy berputar berlawanan arah jarum jam, dan antisiklonik eddy berputar searah arah jarum jam.

Siklonik eddy, umumnya berkaitan dengan upwelling. Sehingga nutrisi yang berasal dari lapisan bawah akan terangkat ke permukaan membawa nutrien yang kemudian digunakan untuk tumbuh dan berkembang kehidupan organisme rantai makanan dari plankton, ikan-ikan kecil, hingga ikan pelagis besar.

Penelitian mengenai eddy di perairan Indonesia telah dilakukan oleh Lab. Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan, diantaranya oleh Tussadiah et al (2018) mengenai karakterististik eddy dan hubungannya dengan tuna sirip kuning di Selatan Jawa Samudera Hindia; dan mengenai pengaruh eddy terhadap fenomena El Niño Southern Oscillation (ENSO) di perairan Samudera Pasifik Barat oleh Simanungkalit et al (2018).

Kedua hasil penelitian tersebut terbit pada IOP Conference Series of Earth and Environmental Science Volume 176 Tahun 2018 baru baru ini.

Hasil analisis eddy di perairan Selatan Jawa Samudera Hindia diketahui bahwa dominan eddy yang terbentuk adalah siklonik eddy (searah jarum jam), dengan total 474 siklonik eddy dan 442 antisiklonik eddy. Secara umum, kemunculan eddy di perairan Selatan Jawa dan Samudera Hindia cenderung bervariasi mengikuti sistem pola arus yang terjadi.

Tipe siklonik eddy dominan terbentuk pada saat Musim Barat (Desember – Februari), sedangkan tipe antisiklonik eddy dominan terbentuk pada saat Musim Peralihan I dan II.

Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis korelasi antara eddy dan tuna sirip kuning (Yellowfin Tuna) di Selatan Jawa Samudera Hindia, diketahui bahwa sebaran tuna sirip kuning tidak secara konstan dipengaruhi oleh eddy. Namun nilai korelasi cukup tinggi ditemukan pada tipe siklonik eddy (r = 0,59).

Pada perairan Samudera Pasifik bagian barat, terdapat dua eddy yang dominan terbentuk secara periodiK, yaitu Mindanao Eddy (ME) dan Halmahera Eddy (HE). Mindanao eddy memiliki karakteristik tipe siklonik eddy dan suhu air laut di pusat eddy yang cenderung dingin (cold-eddy). Halmahera Eddy memiliki karakteristik tipe antisiklonik dengan suhu yang lebih hangat (warm-eddy).

Sepanjang tahun 2011, 2014, 2015, dan 2016 terdeteksi telah terbentuk eddy dengan total 1.119 siklonik eddy dan 892 antisiklonik eddy. Pada bulan Oktober 2015 yang mewakili fase El Niño (Gambar 3.) diketahui bahwa pembentukan eddy cenderung bertambah terhadap kedalaman, namun radius eddy menjadi semakin kecil (berkisar 20 – 220 km).

Selanjutnya, pada bulan April 2011 pada fase La Niña, diameter pembentukan eddy cenderung melebar dibandingkan pada saat fase El Niño dan fase normal, dengan besar diameter berkisar 30 – 450 km.

Hasil penelitian Simanungkalit dan kawan-kawan menunjukkan adanya korelasi sangat tinggi antara eddy, ENSO (0,98) dan suhu air pada pusat eddy di kedalaman 200 m.*

 

Widodo Pranowo

Armyanda Tussadiah

Tonny A. Theoyana

Joko Subandriyo

Laboratorium Data Laut & Pesisir, Pusat Riset Kelautan,

Badan Riset dan SDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Email: labdata.lautpesisir[at]gmail.com

Exit mobile version