SAWERIGADING lahir dan tinggal di tanah Luwuq. Di masa itu, di Luwuq ada anak pemalas.
Kalau disuruh bekerja, anak ini bukan main malasnya. Tapi, kalau disuruh makan, bukan main cepatnya.
Saudara-saudaranya kemudian bermusyawarah. Mereka sepakat untuk membuang anak ini.
Caranya dengan menyerahkan anak ini kepada Sawerigading untuk dibawa ke Tanah Kaili.
Tiba di tanah Kaili, anak ini diikat. Lokasinya didekat kota Palu. Anak ini berdiam ditempat itu.
Waktu berlalu, kemudian ia dikawinkan dengan seorang perempuan suku Kelli.
Perkawinan ini menjadi asal usul keturunan orang Tolare, yang kemudian berkembang biak, turun-temurun.
Itulah sebabnya, orang Tolare, lain wajahnya dari orang Kaili yang mendiami Palu sekarang. Yang mendiami Palu sekarang, bukan asli orang Kaili.
Mereka adalah percampuran hasil kawin-mawin bermacam bangsa yang datang ke lembah Palu. Hasil perkawinan campuran inilah yang melahirkan keturunan yang menempati kampung sekitar kaki bukit.
Orang Kaili asli tetap bertempat tinggal di gunung-gunung sampai sekarang.
Sawerigading meneruskan perjalanannya ke suatu gunung di Sempe. Ditempat ini ia mengawini seorang puteri raja Kasauta.
Sesudah kawin Sawerigading bertanya kepada isterinya, siapa sesungguhnya orang tuanya.
Perempuan itu menjawab bahwa ayahnya adalah Sawerigading.
Mendengar jawaban itu, Sawerigading segera berangkat dengan perahunya.
Tiba di Palu, perahunya tenggelam karena bencana alam. Perahu dan semua isinya hancur.
Sawerigading menancapkan tokong lopinna (tongkat perahunya) ke tanah. Itulah yang sekarang tumbuh menjadi bambu gading emas di atas gunung.*
Sumber: Sawerigading Versi Sulawesi Tengah, ditulis Hasan Basri dan Baso Siojang. Tulisan ini dalam buku: La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Pusat Studi La Galigo, Juni 2003.
