Bila Musim Ubur-Ubur Tiba

Ubur-ubur

FOTO: PPS CILACAP

SEBAGIAN pesisir di Pulau Jawa mengolah ubur-ubur saat “blooming”. Kehadiran ubur-ubur ini menjadi tambahan penghasilan bagi nelayan dan keluarganya.

Selain mendapatkan ubur-ubur, banyak yang terlibat dalam kegiatan pengolahan.

Menurut Anna EW Manuputty (1988) menjadi keistimewaan, produksi ini berjalan hanya pada musim ubur-ubur atau “blooming” dan diadakan panen secara besar-besaran. Menangkap ubur-ubur ini lebih mudah, hasilnya pun lebih banyak, dan diperoleh dalam waktu yang relatif singkat.

Bila musim ubur-ubur tiba, nelayan setempat mengalihkan perhatiannya dari menangkap ikan ke ubur-ubur. Dengan kegiatan ini dapat menambah penghasilan nelayan.

Seperti saat ini, di Cilacap nelayan panen ubur-ubur. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak September lalu.

Setiap nelayan dapat memanen 200 hingga 1000 kilo gram. Ubur-ubur ini kemudian dijual untuk diolah.

Berdasarkan informasi yang ditulis Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap, ubur-ubur yang ditangkap nelayan memakai kapal dibawah 5 GT (gross tonnage). Lokasi berada di perairan Cilacap. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan ubur-ubur ini serok (caduk) dan alat tangkap lainnya.

YOUTUBE/PPS CILACAP

Informasi ini dapat pula dilihat di link Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=gkqlSv8yQmc.

Harga ubur-ubur bervariasi. Pada bulan September Rp 650 per kilo gram. Senin 12 November harga ubur-ubur di PPS Cilacap Rp 800 per kilo gram.

Nelayan menjual hasil tangkapan ubur-ubur ke pengepul di lapak-lapak yang berada di sekitar bantaran sungai kaliyasa PPS Cilacap.

Pengepul akan menjual kembali kepada pengolah ubur-ubur di sekitar kawasan PPS Cilacap untuk dikeringkan dan selanjutnya di ekspor ke bebrerapa negara Asia, khusunya Jepang, Korea dan China.*

 

Exit mobile version