Cara Nelayan Gorontalo Menjaga dan Melindungi Paus Pilot

VERRIANTO MADJOWA

Paus Pilot. FOTO: DOK. NOAA FISHERIES

KASRIN Tambuango, 40 tahun, hanya bisa pasrah. Warga Desa Dulupi, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo itu, tak bisa berbuat apa-apa. Ketika Kasrin menarik tali pancing, hasil tangkapan ikan tuna hanya menyisakan kepala atau kepala dan tulang saja.

Ini pasti ulah paupau. Kasrin adalah nelayan penjaga rumpon. Sembari menjaga rumpon, ia memancing bukurasi, nama lokal ikan tuna di Gorontalo.

Untuk menangkap tuna, menggunakan pancing ulur dengan tali nilon (senar).

Hampir semua nelayan Gorontalo mengenal paupau. Inilah nama lokal Gorontalo untuk paus pilot atau paus pemandu sirip pendek (Short-finned pilot whale).

Paus pilot di perairan Gorontalo atau di Teluk Tomini ikut memangsa tuna. Padahal, paus dikenal hanya memangsa cumi-cumi, gurita dan ikan-ikan pelagis kecil.

Bagi nelayan tuna, paus pilot ini seperti “hama”. Mamalia laut ini menjadi saingan nelayan dalam mencari tuna.

Paupau dengan nama ilmiah Globicephala macrorhynchus bergerak secara rombongan.

Ketika mamalia laut ini muncul didekat rumpon, nelayan akan berteriak. Karena tali pancing yang dilepas dan sudah dimakan tuna, tidak akan ada hasilnya. Daging tuna ini disantap (dengan cara diisap) paupau.

Ikan-ikan pelagis kecil pun akan menjauh dari rumpon ketika paupau bermunculan.

Paupau muncul, ikan tuna yang ada di mata pancing hanya sisa kepala,” kata Umar Ibrahim, 56 tahun, nelayan pemancing tuna dari Kelurahan Tanjung Keramat Kota Gorontalo.

Umar sudah 30 tahun berprofesi sebagai pemancing ikan tuna. Ia tinggal di Kelurahan Tanjung Keramat, Kota Gorontalo. Semua nelayan di Tanjung Keramat, pemancing tuna.

Di Kota Gorontalo ada dua lokasi spesialis penangkap ikan tuna. Di Tanjung Keramat dan Ololalo. Dua tempat ini, nelayannya hanya konsentrasi menangkap bukurasi. Di pesisir Gorontalo lainnya, seperti di Bone Bolango, Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, sebagian Boalemo dan Pohuwato, nelayan menangkap ikan pelagis campuran.

Populasi bukurasi di Teluk Tomini, mulai bulan Agustus. Puncak musim bukurasi di bulan November hingga Desember. Ada kalanya hingga Januari. Setelah itu, jumlah bukurasi menurun. Namun, tetap ada hasil tangkapan tuna.

Untuk sekali melaut, nelayan pemancing ikan tuna paling sedikit mengeluarkan biaya Rp 1 juta. Ongkos ini sudah termasuk bahan bakar minyak, makan dan biaya lainnya.

Jika hasil tangkapan ikan tuna belum ada, nelayan akan tetap menunggu di rumpon. Sebab, cukup tinggi biaya sekali beroperasi. Minimal, dengan sekali jalan, hasil tangkapan impas dengan ongkos yang dikeluarkan.

Tipikal nelayan Gorontalo, tidak bergantung dengan hasil tangkapan ikan dari terumbu karang. Mereka pun secara turun-temurun, diwariskan untuk melindungi semua spesies mamalia laut.

Perairan Gorontalo, Teluk Tomini, masuk dalam Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 715. Sejumlah mamalia laut berukuran besar sering dilihat nelayan dan wisatawan.

Apakah karena populasi cumi-cumi dan gurita mulai berkurang, sebagai salah satu penyebab paus pilot menyantap tuna? Kasus paus pilot memangsa tuna, pernah dilaporkan di laut Puerto Rico.

Mangsa paus pilot, seperti cumi-cumi di Teluk Tomini, hampir setiap bulan dapat ditangkap nelayan. Ini menunjukkan cumi-cumi tetap ada di perairan Teluk Tomini.

Bagi nelayan Gorontalo, terutama penangkap tuna dan jenis ikan pelagis, meski hasil tangkapan tuna dimangsa paupau, mereka tidak membunuh paus pilot. Mamalia laut ini tetap dijaga keberadaannya.

Perlindungan terhadap mamalia laut berukuran kecil dan besar, sudah berlangsung lama. Banyak kisah tentang mamalia laut ini, yang sering membantu nelayan bila mengalami musibah angin kencang, gelombang, perahu mengalami kerusakan dan lain-lain dibantu mamalia laut.

Begitu pula dengan paus pilot yang ikut memangsa tuna, satwa ini tidak menjadi target. Nelayan Gorontalo tetap menjaga dan melindungi paus pilot dan mamalia laut lainnya.*

 

Exit mobile version