Gempa-Tsunami, Pemerintah dan Perguruan Tinggi Beri Keringanan Biaya Kuliah

Jembatan kuning palu

Jembatan kuning di Kota Palu, Sulawesi Tengah, ambruk setelah gempa dan tsunami, pada 28 September 2018. FOTO: VERRIANTO MADJOWA

Jakarta – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, Pemerintah akan memberikan beasiswa bagi mahasiswa korban bencana. Sejumlah perguruan tinggi juga akan memberikan bantuan keringanan biaya kuliah bagi mahasiswa asal Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah yang terkena dampak bencana gempa dan tsunami.

Bantuan beasiswa dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan diberikan bagi mahasiswa yang sedang kuliah di Palu dan Donggala, maupun mahasiswa asal Palu dan Donggala yang tengah menempuh studi di perguruan tinggi di luar Sulawesi Tengah. Berdasarkan data Kemenristekdikti, terdapat 3.530 mahasiswa asal Sulawesi Tengah yang tengah menempuh studi di 35 perguruan tinggi di Indonesia.

”Jangan sampai mahasiswa terkatung-katung akibat bencana sehingga kuliah berhenti, jangan sampai terjadi. Nanti apa pembebasan biaya di kampus ataupun beasiswa, akan kita lakukan pembahasan bersama rektor,” ujar Nasir, seperti dikutip dari laman Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Dari data yang dimiliki Kemenristekdikti, terdapat 37 Perguruan Tinggi di wilayah Sulawesi Tengah baik negeri maupun swasta dengan jumlah mahasiswa sebanyak 61.827. Kemenristekdikti saat ini tengah mengumpulkan data mengenai dosen, mahasiswa ataupun tenaga kependidikan di perguruan tinggi yang menjadi korban bencana alam ini.

Menurut Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Ir Panut Mulyono, UGM memberikan bantuan keringanan biaya kuliah Uang Kuliah Tunggal (UKT). Mahasiswa gratis atau tidak membayar biaya kuliah tersebut untuk satu semester.

“Untuk semester selanjutnya akan kita evaluasi terkait dengan kondisi keluarga masing-masing,” kata Rektor.

Dalam laman UGM, Rektor mengatakan, kebijakan pemberian keringanan biaya kuliah ini, untuk meringankan beban ekonomi bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga yang terkena dampak bencana di Palu, Donggala dan Lombok.

Menurut Mulyono, selain memberikan keringanan biaya kuliah, mahasiswa yang terkena dampak bencana yang masih kesulitan biaya hidup selama kos di Yogyakarta, akan diberikan bantuan berupa bekerja paruh waktu di lingkungan kantor pusat UGM dan kantor fakultas.

“Bisa membantu kegiatan administrasi agar bisa mendapatkan honorarium atau uang lelah,” ujarnya.

Perguruan Tinggi lainnya yang memberikan keringanan bagi mahasiswa korban bencana gempa-tsunami disampaikan Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara. Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo juga menyiapkan skema keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang terkena bencana. Sementara Universitas Diponegoro (Undip) akan mengkaji keringanan biaya kuliah bagi mahasiswa korban gempa.*

Exit mobile version