Hiu Berjalan Halmahera Berasal dari Satu Keturunan

Hiu berjalan Halmahera, Hemiscyllium Halmahera. FOTO: MARK V. ERDMANN

Darilaut – Deskripsi fenotip hiu berjalan halmahera (Hemiscyllium halmahera) yang ditemukan di sejumlah lokasi di Maluku Utara, memiliki corak bintik yang unik, berwarna coklat. Selain itu, memiliki ukuran yang bervariasi dan terdistribusi pada bagian atas tubuh terkecuali perut.

Lokasi tersebut berada di perairan laut Loleo (Halmahera Tengah), Pulau Tidore, Maitara, Lelei (Halmahera Selatan) dan Mare.

Secara umum karakteristik fenotip hiu berjalan halmahera me-miliki kemiripan yang tinggi pada setiap lokasi penelitian. Kesamaan ini diduga bahwa populasi hiu berjalan halmahera berasal dari keturunan yang sama.

Hasil ini berdasarkan penelitian yang dilakukan Nebuchadnezzar Akbar, Irmalita Tahir, Abdurrachman Baksir, Rustam E Paembonan dan Firdaut Ismail yang di publikasi di Jurnal Iktiologi Indonesia, Volume 19 Nomor 2, Juni 2019. Para peneliti adalah dosen di Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Khairun, Ternate, mengambil sampel di sejumlah pulau di Maluku Utara.

Tampilan fenotip yang diperoleh mirip dengan hasil penelitian Allen (2013) di Pulau Ternate dan Bacan. Namun karakteristik yang berbeda dilaporkan Jutan et al. (2018) di Teluk Kao, Halmahera Utara, yakni spesies ini memiliki warna kulit putih abu-abu dengan bintik berwarna coklat muda dengan ukuran yang berbeda dan tersusun beraturan dari bagian ekor hingga kepala.

Perbedaan fenotip yang ditemukan, kemungkinan diakibatkan pengaruh topografi dan kualitas lingkungan perairan laut. Hiu berjalan halmahera yang ditemukan Jutan et al. (2018) di Teluk Kao, diduga telah terpengaruh kondisi perairan yang tercemari sianida dan merkuri (Hg).

Laporan Edward (2008) menunjukkan bahwa Teluk Kao telah terakumulasi kadar merkuri di air laut dan sedimen. Pencemaran merkuri dan sianida dapat memberikan efek terhadap tampilan fenotip biota laut. Edward (2017) mengatakan bahwa ikan yang terpapar senyawa beracun namun tidak mati, organ tubuhnya dapat mengalami kerusakan jaringan.

Perbandingan perbedaan fenotip famili Hemiscyllium juga ditemukan Allen et al. (2016) pada jenis hiu karpet berbintik (H. freycineti) di daerah Pulau Kri Raja Empat yang memiliki bintik berwarna coklat muda dengan warna kulit putih dan terdistribusi secara acak pada bagian tubuh.

Pola totol jenis hiu karpet berbintik yakni hanya ditemukan beberapa jenis totol berukuran besar pada bagian punggung hingga ekor, namun lebih mendominasi totol ukuran kecil. Perbedaan fenotip dimungkinkan akibat perbedaan letak geografis, topografi, dan lingkungan habitat laut Pulau Kri dan lokasi sampling.

Deskripsi fenotip famili Hemiscyllium memiliki ciri yang berbeda setiap individu pada ukuran dan bentuk bintik. Perbedaan ini diduga akibat perbedaan proses isolasi, pengaruh tipo-logi lingkungan pantai, ekologi regional setiap wilayah, rintangan (barrier), dan faktor genetik.

Namun, secara umum ikan memiliki corak warna kulit dan warna totol yang mirip. Akbar & Aris (2018) mengatakan kemiripan yang terjadi pada populasi mengindikasi-kan bahwa kelompok tersebut merupakan satu keturunan dan memiliki kedekatan secara genetik.

Laporan Jutan et al. (2017), spesies ini merupakan endemik Maluku Utara dengan wilayah persebaran yang sempit dan spesifik.

Allen et al. (2013) mengatakan nenek moyang hiu berjalan halmahera saat ini diakibatkan pergeseran dan fragmentasi pulau yang terjadi pada masa lalu. Hipotesis ini didukung dan dikuatkan dengan rekontruksi paleogeografi (Allen et al. 2016).

Morfologi mulut hiu berjalan halmahera memiliki kemiripan juga dilaporkan Allen et al. (2013; 2016) pada lokasi Bacan, Ternate dan Weda dan oleh Jutan et al. (2017) di Teluk Kao.

Allen et al. (2016) mengatakan lebar mulut hiu berjalan yang ditemukan 4,2-4,9 cm. Tipe mulut subterminal yang ditemukan memperlihatkan bahwa terdapat kemiripan antarlokasi.

Penelitian memberikan dugaan bahwa tipe mulut hiu berjalan halmahera secara umum sama dan memberikan indikasi bahwa populasi merupakan kelompok yang sama, namun terpisah secara geografis.

Jenis kelamin hiu berjalan halmahera yang ditemukan adalah jantan dan betina. Total nisbah kelamin yang ditemukan pada penelitian ini terbagi atas 8 jantan dan 7 betina. Pada setiap lokasi perairan terdapat pasangan hiu berjalan halmahera.

Pasangan kelamin yang ditemukan juga menjelaskan bahwa populasi tetap melakukan proses reproduksi, yang memberikan peluang keberlanjutan populasi tetap terjaga.

Hasil yang sama juga diperoleh Allen et al. (2013) di perairan Ternate dan Bacan dan yang diperoleh Jutan et al. (2017) di perairan Teluk Kao. Allen et al. (2016) menemukan struktur jenis kelamin pada tiap spesies bervariasi dan memiliki ukuran yang berbeda.

Secara umum panjang total hiu berjalan halmahera yang ditemukan di semua lokasi pengamatan memiliki kisaran antara 40-63 cm.

Hasil penelitian Allen et al. (2013 ; 2016) di Pulau Ternate dan Bacan, bahwa nilai panjang total hiu berjalan halmahera antara 65,6-68,1 cm.

Allen et al. (2016) juga menemukan panjang total spesies ini antara 40-45 cm di perairan Weda, Halmahera Tengah. Jutan et al. (2017 ; 2018) memperoleh nilai pan-jang hiu berjalan halmahera minimal 16, 9 cm dan maksimal 79 cm di perairan Teluk Kao, Halmahera Utara.

Nilai panjang total <40 cm yang ditemukan memberikan indikasi bahwa spesies hiu berjalan halmahera masuk usia yuwana atau anakan dan kisaran nilai >40 cm dimungkinkan masuk dalam usia dewasa.

Kategori yuwana <40 cm ditemukan di perairan Loleo Halmahera Tengah. Fase dewasa umumnya ditentukan berdasarkan ukuran suatu organisme. Hiu berjalan halmahera dengan kategori pertumbuhan dewasa berdasarkan sampling ditemukan di Pulau Maitara, Lelei Halmahera Selatan, Loleo Halmahera Tengah, Tidore, dan Mare.

Ikan hiu berjalan halmahera masuk kriteria yuwana hingga dewasa. Pengaruh perbedaan panjang total yang ditemukan dipengaruhi oleh faktor topografi perairan yang menyebabkan pembatasan ruang migrasi, aspek genetik, dan kondisi lingkungan serta ketersediaan makanan.

Variasi morfometrik suatu populasi diakibatkan pada isolasi, letak geografis, struktur genetik dan kondisi habitat serta keberadaan nutrien di ling-kungan sekitar (Tzeng et al. 2001 ; Budiharjo 2001; Haryono et al. 2001; Ayyubi et al. 2018; Ramadhaniaty et al. 2018 ).

Penentuan ukuran dewasa hiu berjalan halmahera tidak dapat ditentukan berdasarkan panjang total. Allen et al. (2013; 2016) menyatakan terdapat kejanggalan biologis pada hiu berjalan, yaitu ada ikan yang berukuran be-sar dan panjang belum memasuki fase matang gonad dan reproduksi, sebaliknya ada ikan beru-kuran kecil ditemukan telah dapat bereproduksi.

Contoh kasus, Allen et al. (2016) menemukan ikan dengan panjang total 500–600 mm belum memasuki fase dewasa atau matang, namun ada ikan berukuran kecil telah masuk fase dewasa.

Perbedaan panjang standar ditemukan pada setiap lokasi. Nilai yang diperoleh dipengaruhi kriteria pertumbuhan hiu berjalan halmahera yang ditemukan, seperti ikan fase yuwana yang ditemukan di Loleo Halmahera Tengah.

Perbedaan nilai diakibatkan oleh panjang ukuran sampel dan kriteria pertumbuhan yang ditemukan berbeda. Sebagai contoh bahwa panjang standar ikan di pulau Mare lebih panjang jika dibandingkan dengan lokasi lain.

Topografi pulau Mare secara umum memiliki daerah intertidal (landai) yang luas, dibandingkan dengan daerah lain. Ruang intertidal yang besar ini ditumbuhi karang dan lamun dengan baik.
Ikan hiu berjalan halmahera memanfaatkan ruang intertidal dengan kondisi lamun, serta karang yang baik, untuk dijadikan sebagai habitat dan mencari makanan, dengan kemampuan membaca secara biologis mengikuti pola pasang surut.

Kekayaan lamun dan karang di Pulau Mare, menjadi faktor utama dalam mendukung pertumbuhan morfologi ikan hiu berjalan. Faktor lingkungan perairan memberikan pengaruh terhadap keberadaan sumber makanan dan pola pembentukan morfologi ikan serta membentuk konektivitas morfologi yang kuat.

Madduppa et al. (2014), Robert (1997), dan Wilson & Meekan (2001) mengatakan bahwa lokasi geografis, kondisi oseanografis dan ketersediaan makanan menyebabkan terjadinya sedikit geseran bentuk morfologi dan dispersal populasi tidak merata.*

Exit mobile version