TSUNAMI tidak dapat diprediksi kapan bisa terjadi, sama seperti gempabumi. Namun, daerah potensial bencana tsunami di Indonesia telah dipetakan para ilmuwan kelautan dengan baik.
Bahkan gelombang besar yang dahsyat ada dalam ingatan orang-orang tua, melalui cerita turun-temurun, ratusan tahun lalu. Jauh sebelum terbentuknya Republik Indonesia, tsunami sudah menjadi bagian dari proses pergerakan bumi di kepulauan Nusantara.
Lihat saja catatan sejarah peristiwa tsunami, seperti letusan Krakatau pada 1883. Malapateka ini merenggut nyawa 36.000 orang di Sumatera dan Jawa.
Masih jelas dalam ingatan kita, peristiwa tsunami 2004 di Aceh. Pada 26 Desember, pukul 07.59 waktu setempat, gempa dengan kekuatan magnitude 9,1 sampai 9,3 skala Richter (SR) mengguncang dasar laut di barat daya Sumatera. Pusat gempa ini hanya berjarak 20-an kilometer lepas pantai.
Amukan gelombang raksasa ini, dalam beberapa jam, merambat hingga mencapai daratan Afrika. Jumlah korban meninggal setelah gempa dan tsunami di Aceh ini menyebar di 13 negara.
PBB menyatakan korban meninggal sedikitnya 200.000 orang. Jumlah korban tewas di Aceh sedikitnya 170 ribu orang.
Daerah potensial bencana tsunami sudah ditandai ilmuwan kelautan di sejumlah pantai di Indonesia. Terdapat tanda hitam tebal, sebagai isyarat potensi bencana tsunami dapat terjadi.
Potensi tsunami di Donggala, Selat Makassar, sudah ditandai dalam peta. Pada Jumat (28/9) pekan lalu, terjadi gempa 7,4 skala Richter (SR), disertai tsunami.
Kawasan lain yang ditandai sebagai daerah potensial bencana tsunami di Indonesia, antara lain barat Sumatera, selatan Jawa, Nusa Tenggara, utara Papua, Halmahera, Laut Banda, Selat Makassar, Talaud dan Teluk tomini.
Untuk Laporan Khusus kali ini, Verrianto Madjowa menuliskan dalam beberapa bagian. Bahan tulisan dikumpulkan dari Dr Ing Widodo S Pranowo (Peneliti di Laboratorium Data Laut & Pesisir, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan), keterangan tertulis Dr Ir Muhamad Sadly MEng (Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, BMKG), Fatuhri dan Hasan A Efendi (BMKG Gorontalo), Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Rekaman video tsunami di Palu, diskusi melalui grup WhatsApp dan riset pustaka. Tulisan tsunami Dr Anugerah Nontji (1987 dan 1993) sebagai bahan tulisan yang hingga kini masih tetap relevan.*
