MALUKU bukan hanya cerita tentang rempah-rempah, kolonialisme dan konflik. Daerah kepulauan yang terhubung dengan samudera Pasifik dan Antartika itu memiliki warisan pengetahuan kelautan.
Di kawasan ini banyak menyimpan nilai kearifan lokal dan budaya maritim. Seperti Sasi, yang telah dipraktikkan sejak ratusan tahun lalu di Maluku.
Sasi memberikan keleluasan bagi biota laut tumbuh dan berkembang. Selain juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti pangan. Sistem ini juga ditemukan di Kakorotan, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
Rumphius
Akhir 1980-an, di masa awal berdirinya sejumlah program studi Ilmu dan Teknologi Kelautan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, literatur tentang laut Indonesia masih sangat minim. Sebuah buku dengan judul “Laut Nusantara” ditulis Dr Anugerah Nontji, menjadi semacam kitab pegangan bagi banyak mahasiswa. Tugas-tugas membuat makalah, tak akan lepas dari kutipan di buku tersebut.
Dalam buku “Laut Nusantara”, saya teringat dengan alga laut yang digambar Rumphius. Alga laut Indonesia ini termasuk gambar tertua.
Dengan detail dan cermat, Rumphius menggambar spesimen itu dan dimuat dalam Herbarium Amboinense, pada 1750, setebal 1600 halaman. Karyanya yang lain: Amboinsche Rariteit-kamer, terbit tahun 1705. Dalam naskah buku ini, terdapat beragam deskripsi tumbuhan dan hewan laut, serta tulisan lainnya.
Rumphius, memiliki nama lengkap Georgius Everhadus Rumphius. Ia lahir di Jerman, pada 1627. Setelah dewasa, Rumphius masuk dinas militer Belanda. Karena minatnya pada botani dan zoologi, ia memilih tak lagi bekerja di dinas militer.
Ambon merupakan pilihan selanjutnya. Hampir setengah abad, Rumphius menghabiskan hidupnya di darah kepulauan itu. Sejumlah karya Rumphius lahir dari daerah ini, mulai dari gagasan dan pemikiran yang semuanya dicatat dalam ribuan lembar kertas.
Dalam perjalanan hidupnya, Rumphius menderita penyakit mata, yang akhirnya membuatnya menjadi buta. Dengan kondisi seperti itu, tak menghalanginya untuk terus bekerja.
Potensi flora dan fauna laut di Ambon, Laut Banda dan sekitarnya telah dicatat Rumphius.
Namun, hingga saat ini masih banyak yang terlewatkan dan belum terkuak. Salah satunya, paus biru (Blue Whales).
Paus Biru
Paus biru tergolong hewan terbesar di bumi. Mamalia laut ini ditemukan di semua samudra, kecuali Arktik.
Paus biru, termasuk satwa yang terancam punah. Selama ini, mengalami masa sulit karena kegiatan perburuan dan penangkapan untuk komersial.
Menurut NOAA Fisheries, terdapat lima subspesies paus biru. Selama musim panas, paus biru biasanya menghabiskan waktunya di perairan dingin/kutub. Ketika musim dingin tiba, paus biru melakukan migrasi panjang menuju Khatulistiwa.
Meski sudah lama jadi sasaran perburuan dan penangkapan, pengetahuan dan pemahaman tentang distribusi, serta pergerakan paus biru belum begitu diketahui.
Biasanya, pergerakan paus biru (seperti spesies paus lainnya) karena kebutuhan makanan. Mangsa utama paus biru udang kecil (krill) atau krustasea.
Paus biru yang menyandang nama ilmiah Balaenoptera musculus, termasuk salah satu mamalia laut yang paling sering terlihat di perairan Banda.
Peran Ekologis
Hasil survei yang dilakukan USAID – Sustainable Ecosystems Advanced (SEA) Project telah mencatat pergerakan migrasi paus biru dan mamalia laut lainnya. Penilaian ini menggunakan metode Rapid Ecological Assessment (REA).
Dari 49 pengamatan, tercatat sedikitnya 1.771 spesies biota laut di perairan yang masuk Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 714 ini. Terdapat mamalia laut seperti paus, lumba-lumba dan dugong.
Tercatat, paus biru dan paus sperma (Sperm Whale, Physeter microcephalus) yang tergolong cetacea besar paling sering terlihat.
Direktur APEX Environmental and the survey’s Lead Scientist dan ketua tim survei, Benjamin Kahn, telah menyajikan hasil penilaian kepada para pemangku kepentingan. Catatan penting dari hasil ini, seperti ditulis dalam sea-indonesia.org, adalah peran ekologis dari Laut Banda dan Seram untuk 16 spesies mamalia laut.
Benjamin mengatakan, Laut Banda dan Seram, sebagai titik akhir migrasi Paus Biru. Mamalia laut ini migrasi ke Indonesia timur dari zona konvergensi sub-Antartika, selatan Australia.
Berdasarkan survei ini, komponen penting lainnya adalah penilaian ancaman terhadap mamalia laut. Ancaman utama, seperti di kebanyakan perairan lainnya di Indonesia adalah banyaknya sampah plastik. Plastik ini ditemukan di sepanjang rute survei.
Penilaian lain yang dilakukan tim ini termasuk interaksi mamalia laut dengan kegiatan minyak dan gas, pariwisata, perikanan dan industri laut lainnya. Kegiatan ini dapat menjadi ancaman jangka panjang.
Survei dilakukan pada November 2016, untuk mengatasi kekurangan data pola migrasi cetacea untuk kawasan konservasi Laut Banda dan Seram. Kawasan ini mencakup 1.022 kilometer jalur lintasan dari Ambon ke Kepulauan Banda dan Seram Barat, termasuk Selat Manipa (yang merupakan koridor laut utama).
Survei Laut Banda-Seram menunjukkan kawasan tersebut sebagai habitat penting bagi cetacea besar. Hasil survei juga menggambarkan konektivitas keanekaragaman hayati laut antara Laut Banda dan Laut Seram. Dari perspektif perencanaan tata ruang laut, kawasan ini berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia 714 dan 715.
WPP 714 dan 715 memang menjadi perlintasan mamalia laut yang berukuran besar. Di perairan ini juga terdapat pergerakan utama oseanografi, yakni upwelling dan Arlindo.
Arlindo (Arus Lintas Indonesia), yakni arus yang membawa massa air dingin bergerak dari wilayah lintang tinggi (kutub utara) menuju equator.
Arus ini banyak mensuplai nutrien yang kaya akan makanan sehingga perairan menjadi subur. Sementara upwelling terjadi ketika massa air naik dari lapisan bawah ke atas secara vertikal ke permukaan.
Perairan laut dengan produktivitas primer yang tinggi, akan meningkatkan pertumbuhan fitoplankton. Dengan hadirnya fitoplankton, akan diikuti zooplankton. Ini akan menarik kehadiran ikan-ikan kecil, hingga ikan besar. Termasuk mamalia laut, seperti paus dan lumba-lumba.
Karena itu, sejumlah mamalia laut melintasi Laut Flores, Laut Banda dan Laut Maluku. Salm dan Halim (1984) telah melaporkan pergerakan mamalia berukuran besar di perairan ini. Seperti paus biru, paus sperma, dan paus bungkuk (Megaptera novaeanglie).
Di Teluk Tomini, nelayan, penyelam dan wisatawan pernah menyaksikan paus minke (Balaenoptera acutorostrata) dan paus berkepala melon (Melon-Headed Whales, Peponocephala electra). Kemudian yang sering terlihat paus sperma, paus pilot atau Paus pemandu sirip pendek (Short-finned pilot whale, Globicephala macrorhynchus) dan paus pembunuh (Killer Whale, Orcinus orca). Tentang paus pilot dan paus pembunuh, akan diulas di bagian lain.
Selain mamalia laut, WPP 715 dan 714 di Teluk Tomini, Laut Maluku dan Laut Banda tercatat sebagai tempat pemijahan ikan tuna.
Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ikram Sangadji mengatakan Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur merupakan area distribusi cetacea dan pembesaran 55 jenis larva ikan ekonomis penting, didominasi larva tuna.
Bertemu Paus Biru
Awal Agustus ini, keberadaan paus biru di Laut Banda telah dicatat lagi oleh tim BKKPN Kupang. Ketika melakukan monitoring biota laut yang dilindungi di Taman Wisata Perairan Laut Banda, Tim BKKPN melihat paus biru.
Lokasi perjumpaan berada pada koordinat S 04°.53474°, E 129°.88419°. Tepatnya di pesisir Desa Nusantara.
Hasil monitoring tim BKKPN di Laut Banda telah menguatkan survei dan penilaian USAID – SEA Project bahwa paus biru paling sering terlihat.
Paus biru, melakukan migrasi dari Antartika terus ke selatan Australia dan masuk ke Indonesia Timur. Laut Banda dan Seram, sebagai titik akhir migrasi Paus Biru dari Antartika.*
