Likuefaksi Versi Sawerigading di Sulawesi Tengah

Likuifaksi di Balaroa

Likuifaksi di Balaroa. FOTO: DARILAUT.ID

SUATU hari, Saverigadi ingin makan burung tonji mangge bodo (burung merpati). Tujuh ekor burung kesukaannya disembelih.

Ternyata di dapur, minyak goreng sudah habis. Saverigadi menyuruh anaknya La Galigo mencari minyak.
La galigo memperoleg minyak goreng. Tiba-tiba, minyak gorang tumpah dan meresap ke dalam tanah.

La Galigo tiba di rumah. Saverigadi bertanya tentang minyak goreng itu. La Galigo menceritakan minyak yang tumpah dan meresap di tanah.

Mendengar jawaban anaknya, Saverigadi mengambil tempat minyak goreng. Kemudian bergegas menuju tempat kejadian bersama anaknya.

Setelah melihat tempat minyak yang tumpah, Saverigadi mengambil tanah ditempat minyak goreng tumpah. Saverigadi memeras tanah itu, sembari memarahi anaknya.

Mendengar Saverigadi marah, tanah pun bertanya kepada Saidina Ali Muhammad (Saverigadi).

“Hai Ali tidakkah engkau tahu bahwa engkau berasal dari tanah?”

Ali Muhammad menjawab: “Saya tidak tahu dan kenapa engkau menghalangi kehendakku. Minyak ini saya butuhkan sekarang.”

Tanah menjawab: “Baiklah Ali, tapi tandailah perkataanku bahwa engkau pasti kembali ke tanah, setelah engkau meninggal nanti, dan akupun akan menelanmu.”

Ali Muhammad menjawab dengan sombongnya: “Apa katamu? Tidak. Tidak bisa karena saya bukanlah manusia yang berasal dari tanah.”

Selang beberapa waktu lamanya, tibalah saatnya Saidina Ali Muhammad (Saverigadi) akan dipanggil oleh Tuhan Yang Maha esa.

Karena Saverigadi mempunyai kehebatan yang luar biasa, kuda dan anjingnya selalu siap untuk menemaninya.

Setelah Saverigadi meninggal, kudanya langsung membawanya terbang, namun tanah mengejarnya. Tanah yang paling lama mengejar, di situlah kelak menjadi tanah yang tertinggi di dunia (gunung).

Sementara, anjingnya bertugas menggonggongi (menyalak berulang-ulang) air laut yang mengejar Saverigadi, sehingga terciptalah teluk dan tanjung-tanjung di dunia.*

Sumber: Sawerigading Versi Sulawesi Tengah, ditulis Hasan Basri dan Baso Siojang. Tulisan ini dalam buku: La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Pusat Studi La Galigo, Juni 2003.

Exit mobile version