Kajian perikanan yang berkelanjutan mencakup Maximum Sustainable Yield (MSY) atau tangkapan maksimum lestari dan pendekatan Maximum Economic Yield (MEY) atau hasil tangkapan mencapai keuntungan maksimum. Kemudian kuota yang lebih kecil dari Jumlah Tangkap yang Diperbolehkan (JTB). Dengan pendekatan ini, akan diperoleh stok cadangan (reserve stock).
Untuk pemanfaatan yang berkeadilan, dengan landasan historis, lokasi geografi atau kedekatan dengan sumberdaya ikan. Selanjutnya, skala usaha, lapangan kerja dan tingkat ekonomi.

Prof Indra mengatakan, banyak negara yang tidak mempunyai sejarah menangkap ikan, seperti di Afrika. Karena tidak memiliki armada penangkapan ikan, negara ini menyewakan lokasi tangkapannya ke negara lain.
“Hasil tangkapan ini diklaim sebagai dasar pertimbangan historis,” kata Indra yang juga Ketua Komisi Nasional Pengkajian Sumberdaya Ikan (Komnaskajiskan).
Stok Ikan
Ikan termasuk kelompok sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resources). Namun, bila pemanfaatannya melebihi batas daya dukung kemampuan biologinya untuk berkembang biak, sumberdaya ikan ini akan punah.
Mengapa stok ikan perlu dikaji? Menurut Prof Indra, melalui kajian stok akan diperoleh dasar ilmiah untuk menentukan apakah stok telah mengalami tangkap lebih atau dalam proses mengalami penangkapan berlebih. Selain itu, meramalkan tingkat penangkapan guna menjamin laju penangkapan yang berkelanjutan.





Komentar tentang post