TIDAK banyak ilmuwan dunia seperti Prof Suharsono. Doktor dari Universitas Newcastle Upon Tyne, Inggris, pada 1990 ini, bukan hanya mengetahui dan memahami setiap lekuk karang.
Dalam pembahasan mengenai terumbu karang pun, Suharsono selalu mengikuti dan mengawal setiap proses.
Seperti ketika berada di Gorontalo. Setelah menjadi narasumber Sosialisasi & Replikasi Kegiatan Pemulihan Terumbu Karang, Suharsono, masih ikut dalam sesi selanjutnya. Meski pun bukan lagi sebagai nara sumber, satu per satu, pemaparan nara sumber lain dan peserta disimak selama acara berlangsung.
Kegiatan yang dilaksanakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Fakultas Perikanan bekerjasama dengan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), berlangsung pagi hingga sore, pada Rabu (5/12).
Esoknya, Kamis (6/12), Suharsono bersama peserta lainnya ke lokasi rehabilitasi terumbu karang di perairan Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango. Diskusi pun terus mengalir di lapangan.
Semangat kelautan Suharsono masih terlihat sangat jelas. Dari tahun ke tahun, Suharsono selalu ke lapangan dan mencermati setiap laporan kondisi terumbu karang di Indonesia.
Keuletan dan ketekunannya meneliti terumbu karang di berbagai perairan dan pulau-pulau di Indonesia patut untuk diteladani.
Profesor riset ini telah menggeluti terumbu karang selama 37 tahun. Karir alumni Jurusan Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1979 ini, dimulai 1981 di Lembaga Oseanologi Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Posisi saat itu, sebagai peneliti bidang terumbu karang.
Pada 1992 hingga 1997, Suharsono menjadi Kepala Bidang Biologi Laut. Di masa itu, pria kelahiran Sragen, Jawa tengah 20 Juli 1954, mulai mencermati secara detail karang spesies acropora di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Spesies acropora di Lombok ini, beda. Tidak seperti kebanyakan jenis acropora lainnya.
“Ini jenis (acropora) yang kuno, tidak punya radial koral, lancip saja,” kata Suharsono kepada Darilaut.id, Kamis (6/12). Darilaut.id dua kali menemui dan mewawancarai Suharsono.
Berkah ketekunan dan kecermatan meneliti berbagai bentuk karang, spesies ini kemudian diabadikan dengan mengambil namanya: Acropora suharsonoi Wallace, 1994. Spesies acropora ini pertumbuhannya terbatas di Lombok.
Lembaga Oseanologi Nasional berganti nama menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi (1986 – 2001). Kemudian menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi hingga 2005.
Di masa itu, 1999-2004, Suharsono sebagai Deputy I pada Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP)-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Di fase kedua, menjadi Kepala Project Implementing Unit (PIU) COREMAP 2004-2005.
Ketika Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi kembali berubah nama menjadi Pusat Penelitian Oseanografi, Suharsono memimpin lembaga ini mulai 2005 hingga 2011.
Saat ini, di usia 64 tahun, Suharsono masih tekun meneliti, menulis dan menghadiri kegiatan yang terkait dengan terumbu karang. Selain itu, aktif di Indonesian Scientific Authority untuk Biota Laut dan Animal Committee CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).
Sejumlah karya ilmiah telah dipublikasikan dalam bentuk jurnal maupun buku. Sebagai peneliti senior di LIPI, Suharsono aktif memberikan saran dan masukan untuk pemeliharaan, perawatan, serta aktivitas yang merusak terumbu karang, seperti pengeboman ikan, tabrakan kapal dan kegiatan merusak lainnya.
Kerusakan terumbu karang telah berdampak buruk pada usaha perikanan, wisata bawah laut dan upaya pelestarian lingkungan yang sedang berjalan.
Upaya mempertahankan terumbu karang yang berstatus sangat baik dan baik, serta memulihkan kembali kondisi yang rusak, antara lain, dilakukan bersama KLHK. Seperti kehadiran Suharsono di Gorontalo.
Belajar dari spirit Prof Suharsono, peran terumbu karang ini penting bagi usaha perikanan, peningkatan perekonomian masyarakat, wisata bawah laut dan jasa kelautan lainnya.
Upaya mempertahankan, memulihkan kembali dan melestarikan ekosistem terumbu karang memegang peranan penting untuk keberlangsungan biota laut.
Dengan adanya Indeks Kesehatan Terumbu Karang, kata Suharsono, diharapkan metode yang sama bisa diterapkan di semua tempat di Indonesia dan Asia-Pasifik. “Metode yang sama, akan memudahkan monitoring, dan lebih efektif,” katanya.*
