PENELITI Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan Dr Ing Widodo Setiyo Pranowo mengatakan, dalam melakukan survei tsunami biasanya stasiun koordinat yang digunakan berada pada titik ditemukannya evidence.
Dalam survei tsunami, dilakukan pengukuran ketinggian evidence. “Misal sampah nyangkut di pohon, ketinggian sampah diukur terhadap tanah terlebih dahulu,” ujar Widodo, Selasa (16/10).
Kemudian dari titik di tanah tersebut, dilakukan profiling ketinggian posisi terhadap duduk tengah muka laut atau mean sea level. Sehingga hasil total ketinggian tsunami adalah penjumlahan total dari ketinggian yang diukur terhadap muka tanah, ditambah ketinggian muka tanah terhadap duduk tengah muka laut.
Alat untuk mengukur jarak atau ketinggian dapat menggunakan laser distometer. Akan lebih akurat lagi bila ditambahkan juga teodolit.
Menurut Widodo, alasan mengapa yang dijadikan acuan adalah duduk tengah muka laut, ini karena bisa jadi muka tanah yang dipijak oleh surveyor saat melakukan pengukuran ketinggian tsunami adalah material bawaan tsunami yang ketebalannya tidak bisa diketahui secara pasti.
Untuk inundasi, sebagai pembanjiran daratan akibat gelombang tsunami atau jarak horisontal ketinggian tsunami terukur, pada garis pantai.
Widodo yang memperoleh gelar Doctor in engineering dari Universitas Bremen, Jerman mengatakan, hasil riset terhadap tsunami Aceh pada 2004 dan Java 2006, menunjukkan cepatnya propagagasi gelombang tsunami. Dari Aceh ke Selat Lombok, di sisi barat Bali hanya ditempuh dalam waktu empat jam 58 menit.
Jarak sumber pembangkit dengan pantai yang diterjang sangat jauh atau far field. Amukan gelombang raksasa dari Aceh, dalam beberapa jam, juga merambat hingga mencapai pesisir dan daratan Afrika.
Contoh lain, kata Widodo, sumber tsunami berasal dari zona subduksi Makran di selatan Iran. Propagasi mencapai barat Sumatera. Gempa di Makran, tidak dirasakan penduduk di barat Sumatera. Potensi ini belum pernah terjadi. Namun patut dikaji lebih lanjut dan diwaspadai.
Sementara untuk tsunami di Palu, berlangsung cepat. Gempa sangat kuat berkekuatan magnitude 7,4 skala Richter mengguncang Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pusat gempabumi pada koordinat 119.85 BT; 0.18 LS pada kedalaman 10 kilometer. Mekanisme gempa, sesar geser Palu Koro.
Setelah terjadi gempa M 7,4 SR SR skala Richter, orang masih merasakan dampak goyangan, dalam hitungan menit terjadi tsunami.
“Ini yang diterminologikan sebagai near field tsunami,” ujar Widodo yang juga anggota Dewan Hidrografi Indonesia (DHI).
Gelombang ini dengan jarak antara sumber dan pantai relatif dekat.*
