Bersama para peneliti muda kala itu (Ary Wahyono, Dedi Supriadi Adhuri, Fadjar Ibnu Thufail, G.P. Antariksa, Sudiyono, Thung Yu Lan) dari PMB-LIPI, A.B Lapian di awal tahun 1990-an melanjutkan kelananya di sisi timur-laut Sulawesi – Kepulauan Sangihe dan Talaud (Nusa Utara) – dan bagian timur Indonesia.
“Di sana mereka menemukan pandangan nelayan tentang Hak Ulayat Laut, prinsip yang selama ini dianggap hanya berlaku di darat. Entahlah, jika mereka – dan para pakar di BRIN – masih berminat mengarungi Laut Sulawesi. Hanya mereka yang tahu jawabannya,” ujar Alex.
Selain Alex, diskusi ini menghadirkan pembicara yang sudah dikenal sebagai sahabat, teman, dan rekan kerja yang erat dengan Lapian, yaitu Taufik Abdullah. Diskusi mendalam untuk mengenang Kembali sosok Lapian dipandu Kepala Pusat Riset Kewilayahan, Fadjar Ibnu Thufail.
Taufik, yang pernah mengampu jabatan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2000 – 2002, berkisah tentang perjalanan panjang bersama sahabatnya, Lapian.
Taufik menjelaskan proses pengembangan kajian riset yang dilakukan, dengan narasi pertemanannya bersama Lapian.
Sementara Alex mengaku sangat terkesan menjadi pembicara kali ini karena sama halnya mendapat kesempatan untuk menghormati sejarawan, sekaligus guru yang berjasa di bidang kemaritiman.





Komentar tentang post