Karena itu, ketergantungan global terhadap desalinasi diperkirakan akan tumbuh pesat di tahun-tahun mendatang.
Namun, desalinasi memerlukan investasi besar dalam infrastruktur perpipaan dan pemompaan, sementara bahan bakar fosil yang biasanya digunakan dalam proses desalinasi yang boros energi berkontribusi terhadap pemanasan global.
Hasil desalinasi air garam beracun juga mencemari ekosistem pesisir.
Secara historis, sebagian besar air bersih untuk minum dan sanitasi berasal dari akuifer air tanah. Namun banyak yang mengalami kekeringan karena penggunaan berlebihan, musim kemarau yang lebih panjang, dan kekeringan.
Hal ini merupakan faktor risiko yang lebih tinggi bagi negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang di mana air tawar semakin terancam oleh salinitas seiring naiknya permukaan air laut dan tenggelamnya lahan yang mengalami degradasi.
Dalam upaya untuk mendapatkan air, banyak negara beralih ke sumber air yang tidak konvensional.
Di beberapa daerah pedesaan, termasuk di Chile dan Peru, masyarakat mengumpulkan air yang tersuspensi di udara. Beberapa dari sistem ini menggunakan jaring halus untuk menjebak tetesan kecil kabut dan menyedotnya ke dalam reservoir.
Banyak komunitas juga memandang air limbah sebagai jawaban potensial terhadap kekurangan air.




