Banyak negara tidak memiliki infrastruktur untuk memproses bahkan sebagian kecil dari apa yang dibuang di pantai mereka, yang menyebabkan peningkatan polusi dan kondisi kerja yang berbahaya bagi pemulung sampah.
Fashion berada di bawah sorotan untuk Hari Internasional Nol Sampah (International Day of Zero Waste) 2025, menggarisbawahi konsumsi sumber daya dan tingkat polusi yang mengejutkan.
Ini adalah industri di mana tren berubah dengan cepat, pakaian sering dibuang setelah dipakai beberapa kali.
Para ahli memperkirakan bahwa menggandakan umur pakaian dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 44 persen.
Namun, ini juga merupakan industri dengan peluang menarik untuk mengubah kehidupan dan mata pencaharian menjadi lebih baik.
“Desainer bereksperimen dengan bahan daur ulang. Konsumen semakin menuntut keberlanjutan. Di banyak negara, pasar penjualan sedang booming,” kata Guterres, mendesak semua orang untuk berkontribusi dalam memerangi limbah.
Pemerintah, kata Guterres, harus memberlakukan kebijakan dan peraturan yang mempromosikan inisiatif keberlanjutan dan nol limbah.
Bisnis bergerak melampaui “greenwashing” atau praktik perusahaan yang menyesatkan konsumen tentang dampak lingkungan produknya.
Untuk itu, perlu mengambil langkah-langkah nyata untuk mengurangi limbah, meningkatkan sirkularitas, dan meningkatkan efisiensi sumber daya di seluruh rantai pasokan.




