Penerapan IDDE telah dilakukan di sejumlah wilayah perairan Indonesia, seperti Teluk Saleh, Kepulauan Spermonde, Wakatobi, Teluk Jakarta, hingga wilayah Nusa Penida.
“IDDE menjadi instrumen ilmiah yang menjembatani sains dan kebijakan, sekaligus mendukung pengelolaan terumbu karang yang adaptif dan berkelanjutan,” ujar Taslim seperti dikutip dari Brin.go.id.
Taslim mengusulkan pembentukan kerangka nasional perlindungan terumbu karang berbasis daya dukung ekologi.
Kerangka ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan lintas sektor, dengan mempertimbangkan keterhubungan ekologi, oseanografi, dan sosial-ekonomi antarwilayah.
Namun implementasi IDDE masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan data, kesenjangan kapasitas sumber daya manusia, serta kompleksitas sistem sosial-ekologi.
Meski begitu, pengembangan indeks ini dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat tata kelola ruang laut berbasis ekosistem.
IDDE juga diharapkan dapat menjadi acuan dalam menetapkan batas pemanfaatan yang berkelanjutan, sekaligus menjaga integritas ekosistem laut di tengah tekanan perubahan global.
“Ke depan, integrasi sains, kebijakan, dan praktik lokal menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi habitat,” kata Taslim.




