Riset kali ini secara umum merupakan hal baru di Indonesia, dengan cakupan Sumatera atau lebih fokus di barat Sumatera, kata Taufan.
Hasil penelitian tahun ini diharapkan bisa mencapai target dari Marine Protected Area atau Kawasan Konservasi Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2045.
Dari hasil kolaborasi riset tersebut, menurut Taufan, yang perlu diperluas lagi yakni koordinasi antar institusi.
Hal ini karena hasil riset harus tersampaikan dengan baik kepada pembuat kebijakan, juga pemerintah daerah. Semua harus berpartisipasi agar lebih bisa mencapai target secara global.
Sebenarnya riset-riset tersebut bukan hanya bermanfaat untuk saat ini, tetapi sampai 10, 20, bahkan 50 tahun mendatang, sebab riset harus punya regenerasi.
Sebagai peneliti, perlu untuk menyampaikan pengetahuan yang ada kepada generasi berikutnya untuk keberlanjutan demi kemajuan riset itu sendiri.
“Dengan adanya kesinambungan tersebut, kami berharap akan muncul mawas diri dari masyarakat, paling tidak dari peneliti. Khususnya untuk masyarakat Indonesia bisa mengerti, minimal paham tentang terjadinya kerentanan iklim,” ujarnya.
Indonesia saat ini mengalami iklim yang ekstrem. Contoh untuk pengembangannya, para periset bisa memahami pengaruh lautan, termasuk laut-laut di Samudera Hindia dan Pasifik yang jelas beda.




