Hal terpenting mengidentifikasi distorsi/deformasi/ pergeseran posisi badan perahu. Koreksi distorsi pada sudut-sudut perahu dilanjutkan analisis hidrostatik perahu.
Kemudian memindahkan balok kemudi, membandingkan ikonografi dan etnografi dari relief Borobudur dan kemungkinan berpindahnya balok kemudi.
Tim peneliti juga membandingkan konstruksi kekuatan dalam perahu dengan berbagi perahu di nusantara, bentuknya yang hampir mirip dengan perahu-perahu di Lamalera, Pulau Aru, dan sebagainya.
Rekonstruksi kemudian dilanjutkan dengan pencetakan menggunakan 3D Printing. Rekonstruksi digital dilakukan untuk membandingkan apabila perahu nampak utuh.
Sentuhan akhirnya diberi tekstur dan pencitraan akhir yang lebih realistis. Setelah itu, diintegrasikan visual tiang, layar, dan tali temali. Sehingga nampak rekonstruksi perahu yang utuh sesuai desain awal pada zaman dahulu.
Selain arkeolog, dalam proses rekonstruksi ini ada juga tim teknik perkapalan yang dilibatkan dalam rekonstruksi perahu ini.
Langkahnya meliputi rekonstruksi dan membuat model grafisnya untuk mendapatkan representasi yang tepat, kemungkinan representasi, dan representasi hipotesis.
Dalam kuliah umum yang diselenggarakan Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan – BRIN, Prof Chiara menjelaskan materi dengan judul “Reconstructing Ancient Boats: The Case of the Punjulharjo Boat (7th c. AD).”





Komentar tentang post