Erma mengatakan setiap wilayah merespon perubahan iklim dengan berbeda-beda. Parameter apa yang paling sensitif berubah dan daerah mana yang paling sensitif adalah yang harus dipetakan.
“Kami di BRIN melakukan kajian itu sehingga pertama yang ingin kami lihat itu indikasinya kalau ada perubahan iklim berarti ada perubahan pola musim dan pola cuaca, itu yang ingin kami deteksi, itu yang ingin kami kaji,” ujarnya.
Selain perubahan musim yang telah terjadi di Indonesia selama dua dekade terakhir, indikasi perubahan iklim juga dapat ditunjukkan dengan pola cuaca yang mengalami perubahan karena tak lagi sesuai dengan tipe-tipe cuaca berdasarkan musim.
Akibatnya, pola cuaca ekstrem pun berubah. Cuaca ekstrem ditunjukkan melalui frekuensi hujan ekstrem yang kerap terjadi di wilayah Indonesia khususnya untuk wilayah Sumatera Selatan, Lampung, Jawa bagian barat dan tengah.
Sementara itu, untuk wilayah Jawa bagian timur, Lombok, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), hujan ekstrem meningkat selama musim kemarau.
Selain itu, cuaca ekstrem mengalami eskalasi skala spasial yang semakin luas dan skala temporal yang lebih panjang sehingga membangkitkan kejadian ekstrem (extreme event) di atmosfer sehingga skala dampak yang ditimbulkan pun menjadi masif dan luas.





Komentar tentang post