Nilanto mengatakan, saat ini pasar mutiara dunia didominasi oleh empat jenis mutiara yaitu mutiara laut selatan (south sea pearl), mutiara akoya (akoya pearl), mutiara hitam (black pearl), dan mutiara air tawar (fresh water pearl). Namun dari keempat jenis tersebut, mutiara laut selatan dinilai unggul.
Mutiara laut selatan memiliki ukuran paling besar dibandingkan jenis mutiara lainnya yaitu antara 9-17 mm. Mutiara ini dengan warna kilau keperakan (silver) dan keemasan (gold) sehingga sangat digemari di pasar luar negeri.
Permukaan nacre memancarkan warna biru, silver, dan merah jika terkena cahaya. Tak heran dengan segala keunggulannya tersebut, mutiara jenis ini dibanderol dengan harga yang lebih tinggi yaitu sekitar USD16-18 per gram. “Satu kalung untai bahkan bisa bernilai seharga USD3.000 – 6000,” kata Nilanto.
Berdasarkan data BPS (2019), nilai ekspor mutiara Indonesia pada tahun 2018 mencapai USD42,27 juta dengan negara utama tujuan ekspor Hong Kong, Australia, Jepang, dan China.
Namun demikian, berdasarkan nilai perdagangan mutiara dunia, Indonesia hanya menempati urutan kelima dunia, di bawah Hong Kong, Jepang, French Polynesia/Tahiti, dan China.
Menurut Nilanto, usaha budidaya mutiara di Indonesia tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada pelaku usaha budidaya, tetapi juga bagi pelaku usaha kreatif yang memanfaatkan sisa hasil usaha budidaya mutiara. Beberapa di antaranya aneka hiasan dengan memanfaatkan kulit tiram mutiara, kosmetik dari serbuk (powder) mutiara sisa hasil penggergajian kulit tiram mutiara, dan cat kendaraan dari sisa kulit tiram mutiara.





Komentar tentang post