“Enam titik smart meter untuk pemantauan energi listrik yang dihasilkan oleh PLTS diantaranya dipasang pada PLTS gedung IFFLC dan JBIC Fakultas Kehutanan, gedung BA Fisipol, gedung A Fakultas Hukum, gedung R. Soegondo FIB, dan gedung KLMB Fakultas Geografi,” ujar Wayan Mustika, seperti dikutip dari Ugm.ac.id, Kamis (5/1).
Wayan mengatakan 6 titik monitoring PLTS ini sebenarnya merupakan pilot project dari implementasi smart meter untuk PLTS. Pada bulan Desember 2022 diperoleh informasi energi listrik hasil dari monitoring PLTS secara realtime sebesar 19.889,73 kWh.
Jumlah energi listrik yang dihasilkan pada bulan Desember 2022 tersebut oleh seluruh sistem PLTS yang dipasang di UGM dimungkinkan lebih dari 19.889,73 kWh karena sebagian sistem PLTS belum termonitor secara online.
“Jika diasumsikan investasi instalasi (CAPEX) sistem PLTS diabaikan maka energi listrik yang dihasilkan oleh PLTS ini bersifat gratis, terbarukan, dan zero carbon emission,” kata Wayan Mustika.
“Jika energi listrik yang dihasilkan sistem PLTS gratis tentunya akan menghemat besarnya tagihan listrik dari utilitas seperti PLN karena sebagian energi listrik sudah didukung oleh PLTS.”
Wayan menjelaskan perhitungan tarif dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk UGM jika tarif itu dikenakan sebesar Rp 735 / kWh maka listrik “gratis” yang dihasilkan oleh 6 sistem PLTS yang sudah termonitor oleh smart meter secara online pada bulan Desember 2022 setara dengan penghematan tagihan listrik sebesar Rp735 / kWh x 19.889,73 kWh = Rp14.618.951,55 pada bulan Desember.





Komentar tentang post