“Saya melihat juga ibu-ibu itu punya kemampuan bisa menahan excessive spending (pengeluaran berlebihan). Saya lihat ibu-ibu nelayan di Pantai Selatan, Pangandaran, Tasik, Pameunpeuk itu ibu-ibunya lebih memegang kendali keuangan. Masyarakat nelayannya hidupnya lebih bagus karena saat suami pulang, dia pegang ikannya, dia bawa ke pasar jual, uangnya yang pegang perempuan. Rumahnya bagus, pendidikan anak-anaknya bagus,” katanya.
Menurut Susi, efisiensi manajamen keuangan juga diterapkan dalam kepemimpinannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hal itu ia lakukan melalui kebijakan ‘Susinisasi’ yaitu penghematan anggaran lewat penyederhanaan nomenklatur anggaran dengan memangkas hal-hal yang dirasa tak terlalu krusial.
Selain itu, perempuan memiliki keunggulan negosiasi dalam mengatasi hambatan-hambatan dalam karir. Hal itu ia rasakan dalam pengalamannya bernegosiasi dengan para pejabat pemerintahan yang umumnya adalah pria, yang identik dengan sifat yang keras.
“Saya pikir, saya sebagai Menteri Kelautan tidak akan semudah ini bekerja sama dengan bapak-bapak kalau saya tidak perempuan. Karena mungkin akan sulit kalau ada hambatan apa gitu kan. Tapi karena saya perempuan, hambatan itu tidak ada, semua mendukung jadi gampang kerja. Jadi ya saya pikir itu juga keunggulan sebagai wanita,” ujarnya.





Komentar tentang post