Tim melakukan riset tentang kondisi sampah di beberapa titik aliran sungai yang mengalir ke teluk Jakarta selama pandemi.
Tim ini mengoleksi sampah menggunakan jaring sepanjang 75 meter lalu dilakukan pengelompokan jenis sampah. Hasil riset ini telah diterbitkan pada Jurnal Internasional Chemospher-Elsevier.
Dalam hipotesisnya Prof Etty menyampaikan bahwa terjadi penurunan jumlah sampah domestik, tapi ada peningkatan sampah medis di lingkungan karena tingginya penggunaan alat pelindung diri seperti masker dan face shield.
Berdasarkan temuan ini bobot sampah mengalami peningkatan. Jika ditinjau secara kelimpahan, jumlah sampah juga meningkat karena adanya jenis sampah baru yakni sampah medis. Sampah didominasi plastik dan juga styrofoam.
“Dominasi sampah plastik sebesar 46 persen secara kelimpahan atau jumlah dan setara dengan 57 persen berat sampah,” katanya.
Prof Etty mengatakan bahwa dampak awal masuknya limbah medis ini akan meningkatkan beban pencemaran dari sisi sampah, namun tidak menutup kemungkinan sampah tersebut membawa mikroorganisme patogen, melepas bahan aditif dan menjadi tempat “penempelan” bahan berbahaya dan beracun yang sudah ada di ekosistem perairan.
“Di sisi lain, kemungkinan mikroplastik akan lebih banyak dihasilkan dari sampah medis yang masuk ke lingkungan tersebut,” ujarnya.





Komentar tentang post