Fitur fisiografis utama yang terkait dengan batas konvergen ini adalah Palung Sunda-Jawa, yang membentang sepanjang 3.000 km sejajar dengan daratan Jawa dan Sumatra serta berakhir pada bujur 120° BT.
Konvergensi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Sunda menghasilkan dua busur vulkanik aktif: busur Sunda, yang membentang dari 105° hingga 122° BT, dan busur Banda, yang membentang dari 122° hingga 128° BT.
Busur Sunda terbentuk semata-mata akibat subduksi lempeng samudra yang relatif sederhana, sedangkan busur Banda merepresentasikan transisi dari subduksi samudra menuju tumbukan benua, yang ditandai dengan adanya zona deformasi luas yang kompleks.
Berdasarkan aktivitas terkini, busur Banda dapat dibagi menjadi tiga zona yang berbeda: bagian yang tidak aktif—Zona Wetar— yang diapit oleh dua segmen aktif, yakni Zona Flores di barat dan Zona Damar di timur.
Ketiadaan aktivitas vulkanik di Zona Wetar dikaitkan dengan tumbukan antara lempeng Australia dan lempeng Sunda. Celah dalam aktivitas vulkanik ini bertepatan dengan adanya celah dalam seismisitas kedalaman menengah; hal ini kontras dengan seismisitas kedalaman besar yang hampir berkelanjutan di bawah ketiga bagian busur tersebut.
Zona Flores dicirikan oleh kompresi searah kemiringan (down-dip) pada lempeng (slab) yang menunjam di kedalaman menengah serta pengangkatan wilayah forearc pada masa Kuarter akhir.




