Contoh peristiwa besar intra-lempeng yang tercatat dalam sejarah meliputi: peristiwa M8,1 tahun 1903, M7,5 tahun 1921, M8,3 tahun 1977, dan M7,5 pada bulan Agustus 2007.
Gempa bumi sesar naik (thrust earthquake) berskala besar di dekat Palung Jawa umumnya merupakan peristiwa patahan antar-lempeng yang terjadi di sepanjang bidang kontak antara Lempeng Australia dan Lempeng Sunda.
Gempa-gempa ini juga pada umumnya memiliki potensi tsunami yang tinggi karena kedalaman hiposenter yang dangkal.
Dalam beberapa kasus, peristiwa ini menunjukkan pelepasan momen yang lambat dan diklasifikasikan sebagai gempa bumi ‘tsunami’ (tsunami earthquake), di mana terjadi retakan besar pada lapisan kerak bumi yang lemah dan sangat dekat dengan dasar laut.
Peristiwa semacam ini ditandai dengan tsunami yang ukurannya jauh lebih besar daripada perkiraan berdasarkan magnitudo gempa tersebut.
Gempa bumi tsunami yang paling signifikan di wilayah Jawa terjadi pada tanggal 2 Juni 1994 (M7,8) dan 17 Juli 2006 (M7,7). Peristiwa tahun 1994 menghasilkan tsunami dengan ketinggian run-up mencapai 13 meter dan menewaskan lebih dari 200 orang.
Peristiwa tahun 2006 menghasilkan tsunami setinggi hingga 15 meter dan menewaskan 730 orang.
Meskipun kedua gempa bumi tsunami ini dicirikan oleh retakan sepanjang sesar naik, keduanya diikuti oleh banyak gempa susulan yang berjenis sesar turun (normal faulting). Gempa-gempa susulan tersebut ditafsirkan sebagai akibat dari adanya gaya ekstensi di dalam Lempeng Australia yang sedang menunjam, sedangkan gempa utamanya merupakan manifestasi dari patahan antar-lempeng antara Lempeng Australia dan Lempeng Sunda.




