Mayoritas masyarakat, hampir 70 persen, menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, namun sering kali terjebak dalam keterbatasan harga dan keterbatasan akses pasar.
Melalui program Geo-Agro Wellness Bongongoayu, Tim BIOTIT menawarkan solusi pemberdayaan berbasis potensi lokal. Mereka mengintegrasikan kekayaan alam berupa sumber daya geotermal, komoditas unggulan berupa kebun jambu kristal, serta produk khas desa yakni kue kerawang.
Seluruh potensi tersebut kemudian dikembangkan melalui pendekatan geowisata edukatif dan agribisnis yang dikelola berbasis komunitas.
Salah satu strategi yang ditawarkan adalah pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai motor penggerak, sehingga masyarakat dapat terlibat langsung dalam pengelolaan wisata, produksi, hingga pemasaran.
Harapannya, model ini mampu meningkatkan pendapatan warga, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat ketahanan ekonomi desa secara berkelanjutan.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Desa, Desa Tertinggal, dan Desa Tertentu, Prof. Abdul Haris, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat para peserta.
“8 tim ini kami juga terus terang tidak mudah untuk memilih karena semua gagasannya bagus dan ini kami seleksi dari hampir 2000 mahasiswa Pak Menko dan ini adalah kerja yang saya pikir luar biasa karena diselenggarakan dalam waktu kurang dari 2 bulan,” ujarnya.




