”Ini perlu menjadi catatan kita semua.” Sekalipun kita hidup bersama AI dan memproduksi berita dengan AI, ”sayangnya penggunaan AI di dalam distribusi tidak membuat sebuah informasi terdistribusi dengan baik,” ujarnya.
”Kenapa? Karena ada perilaku AI itu hanya ada pada kesamaan ciri.”
Ada persoalan distribusi yang tidak sama. Problemnya, ada algoritma kebencian. Kalau kita benci sesuatu, kita akan lebih banyak mendapatkan informasi tersebut, kata Damar.
Engagement platform tersebut, mesinnya hidup dari kontroversi. Ada polarisasi dan ini dapat membelah masyarakat dan akibatnya berujung pada demokrasi.
Problem yang muncul dari situs web media berita yang hidup dari algoritma AI, apakah bisa tetap ada di dua kuadran tadi, antara yang “benci” dan “tidak”.
Apakah media bisa di antara keduanya. Itu tantangannya sangat besar. ”Kita berharap media menjadi penjaga pintu gerbang…” ujar pakar Mis/Disinformasi dan Aktivis HAM. (VM)




