“Keberadaan satelit yang andal menjadi salah satu prasyarat untuk memperbesar internet-link ratio dan konektivitas ke seluruh wilayah di nusantara. Termasuk di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T) demi mengentaskan disparitas digital atau to bridge the digital divide,” ujarnya.
Menurut Menkominfo kondisi geografis Indonesia yang unik tentu membutuhkan inovasi teknologi satelit. Hingga tahun 2030, Indonesia diproyeksikan membutuhkan kapasitas satelit sekitar 1 TBps (Terabyte per second). Oleh karena itu, pengembangan inovasi satelit bisa menjadi solusi.
“Dengan kebutuhan yang sangat besar tersebut, diperlukan orkestrasi kebijakan yang konsisten, sehingga Indonesia tidak tertinggal dalam hal riset dan pengembangan satelit, secara khusus satelit nano dibanding dengan negara-negara atau bangsa lain,” ujarnya.
Kolaborasi
Teknologi satelit nano memiliki peranan yang tak kalah penting dengan satelit besar lain, bahkan lebih efisien.
“Teknologi satelit nano memiliki peranan yang tak kalah penting dengan satelit besar lainnya, namun sepengetahuan saya akan lebih efisien karena komponen satelit yang dibuat lebih kecil dan lebih ringan,” ujar Menteri Johnny.
Karena itu, Menkominfo mendukung inisiasi pengembangan teknologi satelit nano oleh sekelompok mahasiswa Surya University. Karya inovatif tersebut, dapat memicu semangat generasi muda untuk berkarya dan berinovasi mendukung kebutuhan satelit nasional Indonesia.





Komentar tentang post