Namun, rekaman menunjukkan banyak lumba-lumba masih hidup dan bergerak bahkan setelah terlempar ke darat.
Ketiga, beberapa foto menunjukkan banyak lumba-lumba telah terkena baling-baling, yang dapat mengakibatkan kematian yang lambat dan menyakitkan.
Menurut penduduk setempat, perburuan telah dilaporkan ke polisi Faroe.
Lumba-lumba terluka oleh baling-baling perahu ini terjadi pada 12 September di Skálafjörður.
Biasanya daging dari grindadrap dibagikan di antara para peserta dan sisanya di antara penduduk lainnya di distrik tempat berburu.
Namun ada lebih banyak daging lumba-lumba dari perburuan ini daripada yang ingin diambil siapa pun, sehingga lumba-lumba ditawarkan ke distrik lain dengan harapan tidak harus membuangnya.
Surat kabar Denmark Ekstra Bladet telah mewawancarai penduduk setempat, dengan tidak menyebutkan identitas lengkapnya disunting demi keselamatan keluarganya, menjelaskan banyak orang Faroe marah dengan kejadian ini.
“Dugaan saya kebanyakan lumba-lumba akan dibuang ke tempat sampah atau di lubang di tanah,” katanya. “Kita harus punya kuota per distrik, dan kita tidak boleh membunuh lumba-lumba,” kata warga lainnya.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen diminta untuk menyelidiki kejadian ini.
Tradisi pembantaian lumba-lumba dan paus pilot tersebut dikhawatirkan akan memberikan dampak pada ekspor perikanan dari Kepulauan Faroe. Ada kekhawatiran pers lumba-lumba yang dibantai ini membahayakan ekspor salmon ke Inggris, AS, dan Rusia.





Komentar tentang post