Dalam situasi ini barang-barang berharga dinomor duakan, keselamatan diri sendiri dan keluarga menjadi nomor satu.
Curah hujan tinggi yang terjadi waktu itu menjadi peristiwa mengulang sejarah 15 tahun lalu dan menjadi awal mula penderitaan warga.
“Banjir di sini biasanya berbulan-bulan baru surut,” kata Iman, salah satu warga Kelurahan Lekobalo.
”Aktivitas kami terbatas sekali. Jadi kami antisipasi dengan membuat panggung di dalam rumah untuk beraktivitas sehari-hari seperti makan dan tidur, tapi kalau airnya sudah cukup tinggi seperti ini, mau tidak mau kita pergi mengungsi ke atas,” ujarnya.

Selain banjir, rumah warga di perbukitan dihantam longsor. Tak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut. Namun tercatat kerugian material yang dialami pemilik rumah.
Banjir yang berkepanjangan memberikan dampak besar bagi warga. Salah satunya pendidikan anak-anak terganggu karena sekolah yang terpaksa diliburkan, mata pencarian warga juga menjadi tak menentu.
Masa-masa sulit ini belum ada jalan keluar. Pemerintah dan berbagai lembaga non-pemerintah telah bekerja keras memberikan bantuan kepada warga yang terdampak.
Bantuan ini berupa makanan siap saji, air bersih, obat-obatan dan perlengkapan sehari-hari terus dikirim ke lokasi.
Selain itu, tenda-tenda sebagai pusat penampungan sementara juga didirikan sebagai tempat tinggal sementara masyarakat yang terdampak.




