Menurut Enny, cagar biosfer Samota meliputi area seluas 724.631,52 hektar yang terdiri dari lima ekosistem utama meliputi pulau-pulau kecil, kawasan pantai hutan bakau, pesisir, hutan dataran rendah dan pegunungan, serta sabana.
Daerah inti cagar biosfer Samota memainkan peran penting dalam melestarikan keanekaragaman hayati di kawasan itu. Zona penyangga dan daerah transisinya memiliki potensi pertanian untuk produksi buah dan sayuran, serta padi, kopi dan kakao dan peternakan.
Saat ini Indonesia telah memiliki 16 Cagar Biosfer. Penetapan Cagar Biosfer Togean Tojo Una-Una dan Samota melengkapi Cagar Biosfer yang telah ada sebelumnya yakni Cibodas, Komodo, Lore Lindu, dan Tanjung Putting. Kemudian, Gunung Leuser, Siberut, Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Wakatobi, Bromo-Tengger-Semeru dan Arjuno, Taka Bonerate-Kepulauan Selayar. Selanjutnya, Belambangan, Berbak-Sembilang, Batang Kerihun Danau Sentarum, serta Rinjani Lombok.
Keberadaan cagar biosfer sendiri adalah bagian program utama dari Man and the Biosphere (MAB) Programme UNESCO untuk menguji dan mengimplementasikan ide-ide inovatif pengembangan berkelanjutan. Yang didukung oleh penerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi, good governance dan peran aktif para pihak dalam rangka pembangunan berkelanjutan.





Komentar tentang post