Selain melakukan pemantauan secara aktif dan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait, Posko tersebut juga berkoordinasi dengan Distrik Navigasi kelas I Tanjung Priok untuk secara rutin memancarkan navigational warning (NAVTEX dan VHF) melalui Stasiun Radio Pantai.
Langkah kedua, penanganan offshore secara keseluruhan telah dikerahkan sebanyak 46 unit kapal dengan 926 orang personil yang terlibat dengan menggunakan sepanjang 5.700 meter oil boom.
Kementerian Perhubungan juga mengerahkan kapal negara yang terdiri dari kapal patroli Sea and Coast Guard. Masing-masing KN Alugara milik pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok, kapal negara KNP 355, KN V054, dan KNS 017 milik KSOP Kelas IV Kepulauan Seribu serta Kapal Negara Kenavigasian KN Edam milik Kantor Distrik Navigasi kelas I Tanjung Priok.
Di area Onshore, kata Ahmad, sepanjang 2.700 meter oil boom terpasang dengan melibatkan sebanyak 1.805 personil yang terdiri dari Ditjen Perhubungan Laut, OSCT, masyarakat sekitar, Pokwasmas, serta TNI dan Polri.
“Untuk area Onshore, sudah sebanyak total 1.113.082 karung limbah yang terkumpul dan dikirim ke darat,” ujar Ahmad.
Laporan Posko, selain mobile oil boom sepanjang 2 x 200 meter yang disiagakan di Teluk Jakarta, saat ini juga tersedia static oil boom sepanjang 2 x 200 meter di FSRU (Floating Storage Regastification Unit) Nusantara Regas.





Komentar tentang post