Darilaut – Dunia menghasilkan sekitar 400 juta ton sampah plastik tahun lalu. Semburan botol air dan sampo, wadah pengeluaran, kemeja poliester, perpipaan PVC, dan produk plastik lainnya ini memiliki berat sebanyak 40.000 Menara Eiffel.
Ini adalah bagian tak terpisahkan dari krisis polusi plastik (plastic pollution) yang menurut para ahli merusak ekosistem, mengekspos orang pada polutan yang berpotensi berbahaya dan memicu perubahan iklim.
“Polusi plastik adalah salah satu ancaman lingkungan terberat yang dihadapi Bumi, tetapi ini adalah masalah yang dapat kita pecahkan,” kata Elisa Tonda, Kepala Cabang Sumber Daya dan Pasar Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).
“Melakukan hal itu tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan manusia dan planet tetapi juga membuka sejumlah peluang ekonomi.”
Negara-negara di seluruh dunia sekarang sedang menegosiasikan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) tahun ini akan berfokus pada cara-cara untuk mencegah sampah plastik keluar ke lingkungan, seperti mengekang polusi dari produk plastik sekali pakai dan mendesain ulang produk plastik agar bertahan lebih lama.
Menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UNEP menguraikan lebih dekat tentang apa itu polusi plastik, mengapa itu menjadi masalah dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.




