2. Seorang pengemudi dengan sirene berhasil mengevakuasi warga di sepanjang pesisir Tonga tepat pada waktunya
Saat gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha’apai meletus pada 15 Januari 2022 dan memicu tsunami yang mengarah ke Tonga, seorang pengemudi dari Kantor Manajemen Darurat bernama Li’oa segera masuk ke kendaraannya, menyalakan sirene, dan meminta warga untuk menjauh dari pesisir.
Empat orang meninggal dunia dalam tsunami Tonga tersebut, yang menghasilkan gelombang setinggi 20 meter. Peringatan dini yang cepat serta kesiapsiagaan penduduk yang memahami langkah yang harus diambil berhasil menjaga jumlah korban tetap rendah.
Kisah Li’oa, yang diterbitkan dalam buku cerita tsunami untuk anak-anak oleh UNDP, menunjukkan bahwa tahap akhir dari sistem peringatan dini sering kali bergantung pada seseorang yang bersedia menyampaikan pesan tersebut.
3. Para siswa di Kamaishi tahu ke mana harus berlari. Ketika tsunami besar melanda Jepang Timur pada Maret 2011, sebanyak 99,8 persen siswa sekolah di Kamaishi, Prefektur Iwate, berhasil selamat. Sejak tahun 2006, Profesor Toshitaka Katada telah bekerja sama dengan sekolah-sekolah setempat untuk menyusun prinsip-prinsip evakuasi sederhana.
Setiap anak membuat peta evakuasi pribadi yang menunjukkan lokasi rumah mereka, rute menuju sekolah, dan area evakuasi terdekat. Setelah lima tahun berlatih, anak-anak tersebut memahami apa yang harus dilakukan dan mampu bertindak secara mandiri saat bencana benar-benar terjadi.




