Tiga peristiwa di atas, sudah cukup memberikan gambaran pada kita, bahwa hoaks atau kabar bohong yang menyebar di tengah masyarakat sesungguhnya memiliki daya rusak tinggi dan sangat berbahaya. Hasutan hoaks membuat umat manusia bisa saling membenci, merusak nilai sosial di tengah masyarakat dan bahkan menyebabkan saling curiga.
Kekuatan hoaks benar-benar menyebabkan guncangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Membuat persepsi dengan tujuan untuk saling memecah belah. Menciptakan kebingungan, melubangi kebenaran, menimbulkan semacam efek rumah yang menyenangkan (fun-house effect) sehingga membuat masyarakat meragukan segalanya, termasuk berita nyata. Masyarakat lalu mudah percaya terhadap informasi yang diterima meski informasi tersebut belum tentu benar.
Studi di University of California San Francisco menemukan, mengkonsumsi hoaks secara terus menerus bahkan dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan mental masyarakat, seperti Post-Traumatic Stress Syndrome (PTSD), menimbulkan kecemasan, sehingga melakukan tindakan kekerasan. Lebih buruknya lagi hoaks dapat memicu tindakan yang berakhir pada kematian dan menjadi penyakit yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan orang.
Secara konseptual, hoaks sendiri dikenal sebagai sebuah informasi yang belum pasti kebenarannya atau lebih banyak memiliki unsur kebohongan. Dibangun berdasarkan fenomena yang belum terlacak dan menyesatkan. Jika didefinisikan secara sempit, hoaks diartikan sebagai informasi yang dibuat-buat dengan tujuan untuk menipu atau sering kali ditujukan untuk menimbulkan kecemasan. Biasanya penyebarannya dilakukan secara terstruktur dan diperkuat oleh teknologi terstruktur dan diperkuat oleh teknologi otomatis, dan didukung oleh sumber daya yang baik.




