Lari memang tak akan serta merta menyelesaikan kemiskinan struktural. Tapi jika dikelola dengan arah dan keberpihakan, ia bisa menjadi percikan kecil yang menyulut api perubahan. Dalam lari, ada semangat, daya juang, dan keberanian untuk melampaui batas. Maka tugas kita adalah memastikan bahwa semangat itu tidak hanya berputar di arena, tapi mengalir ke warung-warung kecil, dapur UMKM, dan harapan para pekerja sektor informal.
Dalam rangka menjadikan event lari sebagai pemantik ekonomi rakyat, pemerintah daerah perlu melangkah lebih jauh dari sekadar penyelenggaraan acara. Dibutuhkan sebuah pendekatan ekonomi yang inklusif, menyeluruh, dan berpihak pada pelaku usaha lokal. Pendekatan itu tidak bisa bersandar hanya pada mobilisasi massa atau branding semata, melainkan harus hadir dalam bentuk kebijakan yang mengakar—yang memberi ruang, keterampilan, dan peluang nyata bagi warga untuk terlibat dan tumbuh bersama momentum tersebut.
Pertama, hal yang sangat krusial adalah kurasi terhadap UMKM lokal. Mereka tidak cukup hanya diundang sebagai pelengkap di pinggir arena. Justru sebaliknya, stand UMKM harus ditempatkan di pusat keramaian event, menjadi bagian dari pengalaman utama yang ditawarkan kepada peserta dan penonton. Produk-produk lokal, dari makanan khas, kerajinan tangan, hingga merchandise olahraga berbasis komunitas, perlu dikemas sebagai narasi ekonomi yang otentik—yang menjadikan lari sebagai gerbang untuk mengenal dan membeli Gorontalo.




