Dengan asumsi rata-rata pengeluaran peserta lokal mencapai Rp. 150.000, maka total belanja yang berputar dari kalangan ini menembus angka lebih dari Rp. 443 juta. Sementara peserta dari luar daerah, yang umumnya tinggal selama satu setengah hari, menciptakan sirkulasi ekonomi tambahan sekitar Rp.150 juta hanya dari kebutuhan dasar selama mereka tinggal di kota ini.
Di sisi lain, geliat ekonomi rakyat tampak nyata misalnya keterlibatan sekitar 150 UMKM lokal yang diberikan ruang di arena event. Selama dua hari pelaksanaan, setiap pelaku usaha diperkirakan mampu mengantongi pendapatan rata-rata Rp. 2 juta, menjadikan total transaksi UMKM menembus angka Rp. 300 juta. Angka-angka ini, meskipun bersifat estimatif, memberikan gambaran jelas bahwa event semacam ini bukan hanya soal kebugaran tubuh, tetapi juga soal bagaimana ekonomi kecil bisa bernafas dan bergerak.
Jika seluruh sirkulasi belanja dari peserta lokal, tamu luar daerah, dan UMKM dihimpun, total dampak ekonomi langsung dari kegiatan ini mencapai sekitar Rp. 894 juta. Namun di balik itu, terdapat pula dampak berantai yang lebih luas. Ini bukan lagi semata-mata angka statistik, tetapi bukti bahwa event publik mampu menjadi ruang pertemuan antara olahraga dan keadilan ekonomi.
Di balik layar, ratusan tenaga kerja terlibat dalam bentuk kerja temporer yang mendadak terbuka. Ada petugas teknis yang mengatur rute dan keamanan, kru kreatif fotografi yang mendokumentasikan peristiwa, pemilik warung dan penginapan yang mendapat tamu tambahan, hingga relawan lokal yang menjaga pos-pos air dan logistik. Setidaknya lima ratus orang ikut terlibat secara langsung, dengan sebagian besar berasal dari kalangan non-formal dan komunitas warga. Keterlibatan ini tidak hanya menambah pemasukan rumah tangga mereka, tetapi juga memperkuat jejaring sosial dan rasa kepemilikan terhadap ruang kota.




