Sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah ruang hidup yang membentuk orientasi rumah, bahasa, sistem pertanian, hingga nilai-nilai spiritual. Dalam pandangan antropologis, dulu masyarakat membangun rumahnya menghadap sungai karena air bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga pusat interaksi sosial dan nilai simbolik. Bagi mereka, sungai bukan saja halaman rumah, tapi juga sebagai pasar, jalan, tempat ibadah, dan tempat pembelajaran bagi anak-anaknya. Namun kini, sungai telah dibelakangi—secara arsitektural dan mentalitas—karena pembangunan memisahkannya dari kehidupan sehari-hari.
Di berbagai wilayah, sungai memiliki peran identitas yang kuat. Misalnya sungai menjadi ruang ritual dan pusat kehidupan komunal yang dijaga dengan kearifan lokal, sungai hadir dalam sistem kosmologi sebagai penghubung dunia manusia dan alam. Bahkan sungai dianggap sebagai jalur utama pertukaran ekonomi dan nilai-nilai maritim. Semua itu memperlihatkan bahwa sungai tidak bisa direduksi sebagai objek fisik atau semata urusan infrastruktur.
KH. Abdullah Aniq Nawawi (Katib Syuriah PWNU Gorontalo) mengutip sumber dari Abdullah Jalghum, al-Mu’ja al-Mufahras as-Syamil Li’alfadz al-Quran al-Karim, pada halaman 1347, menyebutkan bahwa susunan huruf “Na-Ha-ra” (yg membentuk kosa kata nahrun/sungai) ada 123 kali di quran. Sedangkan lafadz sungai sendiri terulang 54 kali. Ini berarti sungai adalah anugerah juga sebagai simbol penyucian dan keberkahan. Hadis Nabi Muhammad SAW bahkan menyamakan shalat lima waktu dengan mandi di sungai yang menyucikan dari dosa.




