Pengunduran Diri Zulficar Mochtar Jadi Teladan

M Zulficar Mochtar. FOTO: DARILAUT.ID

Oleh: Muhamad Karim

HARI ini saya membaca media masa online mendapat kabar M Zulficar Mochtar, Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengundurkan diri.

KKP pun sudah meliris pemberhentian beliau. Sungguh mengagetkan bagi saya. Pak Zulficar, saya tahu persis orang yang konsen dengan pemberantasan kejahatan perikanan (illegal unreported and unregulated fishing).

Beliau melakukan itu jauh hari sebelum menjabat Dirjen. Bahkan sebelum di KKP.

Kini beliau meletakan jabatannya dan mengundurkan diri. Ada apa?

Orang pasti menduga-duga. Memang belum ada penjelasan dari Pak Zulficar.

Namun rilis KKP sudah menjelaskan itu. Biarpun demikian publik bertanya mengapa beliau mundur?

Memang tidak semua orang menganggap jabatan itu barang mewah.

Tak ada gunanya jabatan diemban jika tidak sejalan dengan prinsip-prinsip perjuangan dan nilai-nilai yang dianut. Apalagi ujung-ujungnya justru menimbulkan masalah di tengah masyarakat dengan kebijakan yang diambil.

Saya tidak berpretensi apa pun. Publik pastinya akan mengaitkan dengan kebijakan KKP akhir-akhir ini yang heboh.

Salah satunya soal ekspor benih lobster. Juga rencana KKP mau melegalkan kembali cantrang.

Bisa saja dugaan ini benar. Bisa juga tidak.

Tapi amatlah terang-benderang soalnya kebijakan itu dalam kewenangan beliau di Ditjen Perikanan Tangkap. Bagi saya publik berpikiran begitu sah saja.

Tapi di ballik pengunduran diri atau pemberhentian ini ada secercah harapan di Republik ini.

Masih ada orang yang punya hati nurani, berintegritas dan tidak mementingkan jabatan dalam hidupnya. Suatu sikap langkah dan jadi teladan.

Dahulu kita mengenal Bung Hatta, Wakil Presiden Pertama RI. Ia mundur dan meletakan jabatannya sebagai Wapres karena tidak sepaham lagi dengan Bung Karno, Presiden RI.

Bung Hatta sempat mengkritik dengan tulisan berjudul Demokrasi Kita. Saya tidak bisa membayangkan jika itu terjadi zaman sekarang ini. Tapi kenyataan itu ada, ketika Pak Zulficar melakukannya.

Orang berebut jabatan, tapi Pak Zulficar meletakannya. Jabatan bukanlah segalanya.

Jika prinsip-prinsip perjuangan sudah tidak sejalan–seperti halnya Bung Hatta–maka jabatan mending diletakan ketimbang digenggam terus. Itu lebih terhormat dan bermanfaat bagi orang banyak.

Saya menghormati dan salut dengan Pak Zulficar. Arena perjuangan sangat luas Pak. Dunia tak selebar daun kelor.

Saya mendoakan dan mendukung gerak langkah Pak Zulficar untuk berkiprah di tempat lain dengan prinsip-prinsip yang bapak anut. Bravo!!

Muhamad Karim, Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Dosen Bioindustri Universitas Trilogi.

Exit mobile version