Verrianto Madjowa, Pemimpin Redaksi Darilaut.id
Setahun yang lalu, dua helikopter Indonesia memasuki daerah terisolasi di Filipina. Helikopter militer tiba di negara itu untuk menambah misi kemanusiaan dan bantuan bencana di daerah-daerah yang sangat terkena dampak gangguan cuaca: siklon tropis.
Helikopter Tentara Nasional Indonesia (TNI) Mi-17V5 dan H-225M itu mendarat di Pangkalan Udara Villamor, Kota Pasay, pada hari Kamis 31 Oktober 2024.
Indonesia – bersama sejumlah negara lainnya — membantu Filipina yang terkena dampak langsung Badai Tropis Parah (Severe Tropical Storm) Trami dan topan super (super typhoon) Kong-rey.
Kantor Berita Filipina (PNA) melaporkan paket makanan diterbangkan ke pulau-pulau terpencil. Bantuan kemanusiaan dalam operasi bencana menunjukkan kemitraan yang kuat antara Filipina dan Indonesia dalam memberikan bantuan tepat waktu.
Peristiwa ini tidak seiring dengan keadaan ketika siklon tropis (badai siklon) Senyar yang mendarat di timur Aceh pada 26 November yang meninggalkan jejak kehancuran di banyak wilayah di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Seperti pepatah ”gajah di pelupuk mata tak tampak, semut (kuman) di seberang lautan tampak.”
Bukan hanya operasi bantuan yang tidak tepat waktu, sebelumnya gagap dengan peringatan dini untuk semua saat bibit siklon tropis itu, menjadi depresi tropis dan badai tropis.
Peringatan Dini untuk Semua atau Early Warnings for All, sebuah target yang telah dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih jauh dari harapan dan hanya menjadi jargon semata. Setiap orang di Bumi harus dilindungi melalui sistem peringatan dini terhadap cuaca dan perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Seminggu setelah kejadian, masih terdapat banyak warga terdampak yang belum tersentuh bantuan apa pun.
Wilayah Kepulauan Indonesia memang jarang dilintasi secara langsung siklon tropis. Terdapat koridor atau semacam pembatas di ekuator (khatulistiwa) yang membuat sistem ini jarang mendarat di daratan Kepulauan Indonesia.
Namun, wilayah utara di Samudra Pasifik dan selatan di Samudra Hindia, dekat Indonesia sebagai tempat berkembangnya bibit siklon tropis.
Siklon tropis dengan sebutan lain badai, topan di kawasan Samudra Pasifik Barat dan Utara, dan hurikan di Samudra Pasifik Timur dan Atlantik, salah satu peristiwa paling berbahaya di dunia.
Peristiwa siklon tropis dapat diprediksi atau prakiraan lintasan dan cakupan dampaknya, sejak masa pertumbuhan awal (bibit), depresi tropis hingga terbentuk menjadi badai tropis dan seterusnya. Ini peristiwa yang dapat merenggut nyawa, merusak infrastruktur, mengganggu kehidupan dan perekonomian.
Senyar, badai kategori 1 memang tidak sedahsyat topan di kategori 3 atau topan super. Namun, untuk kondisi satu dua tahun terakhir, badai kategori satu bahkan depresi tropis pun perlu sangat diwaspadai.
Badai tropis membawa hujan lebat dan sangat lebat serta angin kencang. Untuk curah hujan seperti ini, dengan kondisi wilayah yang telah rusak, tanpa pepohonan alami yang memadai untuk menahan laju erosi dapat menimbulkan kejadian fatal, seperti yang terjadi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Hancurnya ekosistem hutan dan daerah aliran sungai di pegunungan atau dataran tinggi akan membawa malapetaka di wilayah dataran rendah dan daerah aliran sungai. Ada hubungan timbal balik dengan lingkungannya yang biasa disebut ekologi.
Dalam konsep politik ekologi suatu pendekatan yang menggabungkan masalah lingkungan dengan ekonomi, dinamika lingkungan dan manusia, politik ekonomi global dan ekosistem. Apabila dibalik menjadi ekologi politik membutuhkan penjelasan politik terhadap perubahan dan kerusakan lingkungan.
Posisi geografis yang telah mengalami banyak perubahan dan kerusakan lingkungan ini ketika menghadapi hujan lebat dan sangat lebat berjam-jam telah memicu banyak korban jiwa manusia, warga terdampak, satwa liar, lahan pertanian, peternakan, budidaya, rumah dan infrastruktur lainnya.
Penilaian yang keliru di awal kejadian telah “menutup” sementara akses bagi pihak lainnya, seperti dari negara lain untuk membantu lantaran seolah-olah mampu menangani sendiri dampak kejadian. Ini pula yang memberi kesan pembiaran.
Seperti dikatakan Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Celeste Saulo, tidak ada satu lembaga atau negara pun yang dapat mengatasi tantangan topan dan iklim ekstrem sendirian.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan kesedihan yang mendalam atas hilangnya nyawa yang tragis di seluruh kawasan akibat siklon tropis Senyar. PBB menyatakan solidaritasnya dengan semua pihak yang terdampak dan siap mendukung semua upaya bantuan.
Ada kecenderungan pemerintah pusat mengecilkan peristiwa siklon tropis. Lambannya penanganan dan penanggulangan pascakejadian terjadi di semua kabupaten dan kota yang terdampak langsung menunjukkan indikasi pembiaran.
Terutama warga terdampak yang berada di pinggiran dan yang mengalami kerusakan pada sejumlah akses jalan dan jembatan.
Peristiwa cuaca ekstrem, bencana hidrometeorologi, bencana ekologi masih akan terjadi karena maraknya kegairahan kegiatan ekstraktif di berbagai pulau yang merusak dan rapuhnya kebijakan pengelolaan lingkungan yang baik.
Lambannya sikap pemerintah pusat dalam mengambil kebijakan yang tepat waktu dan tepat secara geografi di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat dapat menjadi catatan penting bagi daerah lain apabila mengalami dan menghadapi kondisi dan peristiwa cuaca dan iklim ekstrem di kemudian hari.
