Kerajaan Utara yang dipimpin Awameleh tidak mengenal agama hanif, seluruh rakyatnya tunduk dan patuh dengan kemuliaan saja kepada Awameleh. Menjadi kebiasaan kerajaan Utara tawanan putri bangsawan dipersembahkan kepada raja yang haus akan hawa nafsu, sesuka hati dengan kesenangan duniawi.
Sebelum diserahkan ke raja Utara terlebih dahulu Hajar yang masih remaja diajari cara melayani, bahasa dan tradisi kerajaan untuk dipersiapkan ke hadapan Awameleh, dalam kerajaan tersebut telah terkumpul sebanyak mungkin perempuan yang menjadi tawanan yang tinggal di asrama untuk dilatih melayani para pejabat maupun tamu kerajaan.
Menjadi Asisten Siti Sarah
Skenario Tuhan mengatakan lain. Hajar muda telah disiapkan untuk raja Utara oleh pengurus asrama. Namun salah satu petugas perempuan pengurus asrama merasa iba dan simpatik dengan keadaan Siti Hajar yang dikenalnya sebagai princess dengan tanda bunga lotus di pundaknya.
Tanda bunga lotus tersebut hampir sama dengan tanda yang dimiliki oleh pengasuh tersebut yang dulu menjadi tawanan yang diperdaya oleh Awameleh. Ia tidak mau Siti hajar menjadi seperti dirinya yang masih cantik dan muda, menjadi selir raja dan setelah tua nanti dicampakkan seperti dirinya.
Suatu hari rombongan Nabi Ibrahim melewati kerajaan Utara, dihadang oleh para penjaga perbatasan, seperti biasanya apabila dalam rombomgan tersebut ada perempuan cantik ditawan dan akan dipersembahkan ke hadapan Awameleh.




