Dalam konteks sosiologi kebencanaan, di mana informasi ada, sejarah tercatat, tetapi “kesiapsiagaan sosial” gagal dibangun karena narasi itu tidak diintegrasikan ke dalam imajinasi kolektif. Inilah ruang kebaruan teoritik yakni merumuskan konsep “mitigasi lelucon” atau “humor sebagai early-warning sosial terhadap erosi memori risiko”, di mana tawa menjadi sinyal bahwa sistem formal tidak diinternalisasi, dan bahwa bencana berikutnya bisa memanfaatkan kelengahan yang sama.
Dari Tawa Menuju Ketangguhan
Gorontalo punya bahan untuk bangun ketangguhan: arsip 1845 yang menunjukkan keberadaan dokumentasi, kronologi gempa dan tsunami (1917, 1938, 1939) sebagai narasi yang bisa dihidupkan kembali, serta program pemerintah lokal yang sedang berjalan. Namun implementasi harus melampaui sirene atau pesan sederhana. Edukasi harus menyusun ulang memori: menggabungkan sejarah (foto koran, catatan kolonial), teori risiko (Beck), dan praktik lokal (simulasi berbasis cerita nyata) agar “tawa” tidak lagi menjadi pelampiasan tunggal, melainkan jembatan masuk ke kesiapsiagaan.
Tsunami dari Rusia tak pernah datang ke Gorontalo. Tapi gelombang lain telah melintas: gelombang sejarah yang nyaris terlupakan, gelombang informasi yang diserap tanpa ritme, dan gelombang tawa yang menutupi celah kesiapsiagaan. Jika kita gagal membaca “tawa” itu sebagai bagian dari geografi risiko sosial, maka gempa dan tsunami berikutnya tidak hanya akan mengguncang tanah, tapi juga menghantam memori yang belum sepenuhnya pulih. Gorontalo bisa menjadi contoh daerah yang membalikkan risk society, dari ketakutan pasif menjadi kesiapsiagaan aktif, asal mau menjahit kembali narasi sejarah dengan praktik kolektif hari ini.




