Syarief Mbuinga pun demikian, dua periode selama memimpin Pohuwato adalah bekal penting bagi dirinya untuk bisa sukses di Senayan. Ia tahu betul bagaimana bisa berkomunikasi dengan elit lain di DPD RI. Sebagai “representasi” Pohuwato-Boalemo, Syarief tentu saja diharapkan bisa memperkecil angka kemiskinan Pohuwato dan Boalemo melalui program strategis yang bisa dia lobby. Walapun fungsi dan kewenangan DPD RI yang terbatas, tapi Syarief sebagai “orang Golkar” mesti memaksakan diri untuk bisa memperlihatkan kinerjanya yang maksimal.
Yasin Dilo juga sama, walaupun ia orang baru di Senayan, dia bukan orang baru di “Jakarta”. Sebagai alumni Jakarta, ia pasti tahu kepada siapa dan bagaimana ia bisa mengkomunikasikan aspirasi rakyat Gorontalo. Ia sebagai “representasi” PKS, tentu bisa melalui jejaring PKS di DPR untuk bisa membantu dirinya.
Selain ketiga nama diatas, ada empat nama lainnya yang sudah berkecimpung di Senayan.
Elnino Mohi sudah masuk periode keempatnya di Senayan, pada periode 2014-2019 dan 2019-2024 berada di beberapa komisi di DPR RI, dan sebelumnya pada periode 2009–2014 berada di DPD RI. Selama berada di Senayan, program Elnino yang paling “kedengaran dan diingat” adalah mendistribusikan program beasiswa dari Kemendikbud.



